
Dari kursi roda di desa kecil Pinrang, Ali Topan menggerakkan bank sampah inklusif dan membuktikan keterbatasan tak pernah membatasi perubahan.
TOKOH INSPIRATIF – Ali Topan tidak banyak bicara soal keterbatasan. Ia memilih bekerja. Dari sebuah desa di Pinrang, Sulawesi Selatan, ia membuktikan bahwa kepedulian pada lingkungan tidak membutuhkan tubuh yang sempurna, apalagi gelar panjang. Cukup kemauan, ketekunan, dan keberanian untuk memulai.
Pemuda asal Desa Tammasarenge itu kini dikenal sebagai penggerak bank sampah inklusif. Namanya kembali mengemuka setelah dinobatkan sebagai Local Hero ENSIA 2025, sebuah pengakuan atas kerja sunyi yang konsisten menjawab persoalan lingkungan sekaligus kesenjangan sosial.
Kisah Ali berawal dari peristiwa pahit. Pada 2015, ia mengalami kecelakaan kerja. Tubuhnya terjepit besi di ketinggian belasan meter. Dua kakinya lumpuh total. Dunia seakan runtuh. Namun Ali menolak menyerah pada keadaan. Baginya, yang lumpuh hanya fisik, bukan pikiran dan semangat.

Ali Topan memilah sampah plastik. Ia mengajarkan bahwa kepedulian lingkungan adalah soal keberanian mengambil peran.
Ali memilih pulang ke desa. Ia membaca persoalan di sekitarnya dengan jernih. Sampah plastik menumpuk. Warga kesulitan ekonomi. Kesadaran lingkungan rendah. Dari situ, gagasan sederhana lahir. Pada 2018, Ali mendirikan bank sampah di desanya.
Setiap hari, ia berkeliling kampung. Mengambil botol plastik, kantong bekas, dan kemasan sekali pakai dari rumah ke rumah. Satu kilogram sampah plastik dihargai seribu rupiah. Tidak besar, tetapi berarti. Warga bisa menabung dari sampah. Sebagian lainnya memilih menyumbangkannya. Uang hasil penjualan kemudian dipakai untuk sedekah.
Bank sampah itu pelan-pelan mengubah cara pandang warga. Sampah tidak lagi dianggap beban, melainkan sumber daya. Lingkungan menjadi lebih bersih. Warga miskin mendapat tambahan penghasilan. Solidaritas tumbuh dari aktivitas yang tampak sederhana.
Gerakan Ali tidak berhenti pada urusan sampah. Ia aktif mengajak warga terlibat dalam kegiatan sosial dan kebencanaan. Sejak 2009, Ali tercatat sebagai anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pinrang. Keterbatasan fisik tak menghalanginya menjadi relawan. Ia hadir di banyak kegiatan, memberi contoh bahwa kepedulian tidak mengenal batas tubuh.

Ali Topan menerima penghargaan Local Hero ENSIA 2025
Upaya itu mendapat pengakuan nasional. Pada 2021, Ali Topan menerima Penghargaan Khusus Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Pemuda Inspiratif Advokasi Lingkungan. Penghargaan itu menjadi penanda bahwa kerja akar rumput dapat berdampak luas.
Ali menyadari, gerakan lingkungan tidak bisa dijalankan sendirian. Ia memilih berjalan bersama. Mengajak, bukan menggurui. Mendorong, bukan memaksa. Baginya, advokasi adalah soal kehadiran dan keteladanan.
“Kalau ada kegiatan lingkungan yang tidak jalan, saya ajak teman-teman untuk bergerak bersama,” pernah ia katakan. Prinsip itu yang terus ia pegang hingga kini.
Program yang ia jalankan kemudian berkembang menjadi “Bank Sampah Inklusif, Berdaya Tanpa Batas”. Sebuah inisiatif yang tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga mempersempit jarak sosial. Penyandang disabilitas, warga miskin, dan kelompok rentan ditempatkan sebagai subjek perubahan.
Penghargaan Local Hero ENSIA 2025 menegaskan satu hal penting. Transisi menuju keberlanjutan tidak selalu lahir dari kota besar atau kebijakan megah. Ia bisa tumbuh dari desa kecil, dari seseorang yang pernah jatuh, lalu bangkit dengan caranya sendiri.
Ali Topan mengajarkan bahwa kepedulian lingkungan adalah soal keberanian mengambil peran. Bahwa keterbatasan tidak harus menjadi alasan berhenti. Dari kursi roda, ia menggerakkan perubahan. Pelan, konsisten, dan bermakna.
Di tengah krisis lingkungan dan ketimpangan sosial, kisah Ali menjadi pengingat yang jujur. Masa depan yang lebih adil dan lestari sering kali dimulai dari langkah kecil. Dari mereka yang memilih untuk tidak menyerah.