Annisa Rahmania

Pegiat Young Voice Indonesia

Tuli, Berprestasi, Mendunia
Dia tak mau disebut tunarungu. Dia menganggap sebutan Tuli lebih membanggakan dan tak membuatnya rendah hati. Dengan segala keterbatasan, dara 24 tahun ini mengukir prestasi membanggakan di tingkat nasional dan dunia. Saat ini dia sedang mengerjakan proyek pembuatan buku ilustrasi tentang Undang-Undang Disabilitas yang mudah dipahami oleh disabilitas intelektual.

Penghujung Maret 2018, jagad media sosial dihebohkan dengan perlakuan kasar seorang pengemudi ojek online terhadap calon penumpangnya yang difabel. Pesanan ojek Annisa Rahmania ditolak mentah-mentah oleh pengemudi ojek setelah Nia, Annisa karib disapa, mengatakan bahwa dia tuli dan meminta komunikasi lewat sms atau aplikasi whatsapp saja.

Nia melaporkan kasus kekerasan verbal yang ia alami. Kasus tersebut akhirnya langsung ditangani oleh pihak perusahaan di mana pengemudi ojek online tersebut bekerja.

Annisa Rahmania adalah seorang wanita tunarungu yang memiliki banyak talenta. Menari, ahli desain visual, hingga profesi sebagai Master of Ceremonies (MC) ditekuni. Annisa juga ikut serta dalam sebuah organisasi yang bergerak untuk menyadarkan masyarakat mengenai posisi kaum disabilitas. Dia sering terlihat aktif dalam berbagai kegiatan mengenai disabilitas.

Di dunia maya, Annisa memiliki banyak penggemar. Akun instagram-nya telah diikuti lebih dari 3 ribu orang. Video-video miliknya kurang lebih telah ditnton lebih dari 10 ribu kali. Foto-fotonya pun juga disukai hampir mencapai 1.000 orang.

Membuka blog Annisa Rahmania, putri tunggal dari pasangan Bachirzal dan Wida Setianti ini lugas menceritakan jati dirinya. Annisa adalah generasi tuli kedua setelah orang tua dalam silsilah keluarga mereka.

Nia bersekolah sejak umur satu setengah tahun. Bakat cerdas dan supel menurun dari kedua orangtuanya yang tak kenal putus asa untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putri semata wayangnya.

“Saya diajarkan beretika sopan, bertutur kata yang baik, dan berinteraksi dengan orang normal. Saya selalu dikasih bacaan dan kertas atau permainan edukatif di rumah,” tulisnya dalam blog pribadinya di http://annisarahmaniaa.blogspot.com

Perjuangan sejak sekolah dasar hingga Sekolah Menengah Kejuruan ia lalui dengan lancar meski banyak tantangan. Dia yang aktif dalam berbagai kegiatan ini selalu duduk di peringkat atas untuk urusan kemampuan akademik.

Salah satu kegiatan yang menantang selama menjadi siswa SMK adalah perjuangan kerjasama tim menggalang dana, membuat baju dari sampah daur ulang, mengatur persiapan panggung dan melatih model untuk mengadakan acara peragaan mode yang bertema “L’Opera Ettonant” dalam waktu berdekatan dengan Ujian Nasional yang berakhir sukses.

Lulus SMK tahun 2011, Nia memutuskan memilih program studi Desain Komunikasi Visual, fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Trisakti. Diskriminasi dalam penerimaan anak inklusif terjadi lagi saat melanjutkan pemeriksaan kesehatan setelah lulus tes masuk Universitas Trisakti. Dokter meminta waktu tambahan untuk konsultasi pada Dosen karena masalah ketulian. Nia menegaskan bahwa dirinya sudah berpengalaman mengikuti pelajaran bersama anak normal. “Saya pun bisa menyaingi mereka untuk berprestasi,” katanya kala itu. Dokter terperangah dan mengubah pikiran untuk mempersilahkan lanjut mengurus administrasi.

Saat masih kuliah semester 3, Nia bertemu teman lama yang sudah lebih dulu aktif mengikuti komunitas tuli. Dia diajak bergabung organisasi disabilitas Young Voices. Nia mengiyakan.

Di organisasi nirlaba ini, begitu banyak pelatihan yang dia ikuti antara lain, kepimpinan, kepenulisan, advokasi, pemanduan CRPD (Convention on the Right of Person with Disabilities), dan media. “Semua yang sangat membekali saya untuk menjadi calon pemimpin dalam membuat perubahan yang lebih baik,” kata Nia akhirnya terpilih menjadi perwakilan Young Voices dan mengaku makin tertantang untuk membagi waktu kuliah dan organisasi sosial.

Dari aktif berorganisasi, Nia mengukir prestasi lainnya. Tahun 2016 dia mendapat kesempatan ke London menghadiri festival seni Unlimited Disability Arts UK dan menjadi satu-satunya tuli yang mewakili Indonesia di sana.

Nia mengisahkan, saat itu dia masih menjabat Liaison Officer di Komunitas Disabilitas Muda (Young Voices Indonesia). Dalam kunjungan Jo Verrent yang merupakan pencetus Unlimited Festival Disability Arts ke kantor British Council di Jakarta, Nia menceritakan situasi masyarakat Indonesia masih terperangkap dalam pemikiran yang mengategorikan disabilitas sesuai kedisabilitasannya. Ketika percakapan semakin melebar, ternyata hal itu menarik keputusan mereka untuk merekomendasikannya sebagai salah satu delegasi Indonesia.

Sepulang dari Unlimited Festival Disabiliti Arts di London, Nia mempelajari tarian kontemporer di bawah arahan Candoco Dance Compani untuk acara Gala Balet Inklusif diselenggarakan Ballet.ID. Itu menjadi pengalaman baru karena sebelumnya dia yang biasa mengikuti gerakan koreografer, tiba-tiba harus mengeksplorasi gerakan sendiri lebih variatif.

Sebelumnya, masih di tahun yang sama, Nia terpilih sebagai salah satu delegasi program pertukaran USA-Indonesia Deaf Youth Leadership Program ke Amerika. Sesuai dengan target USA-Indonesia Youth Leadership, Cultural Exchange and Human Rights Program, Nia dikatakan unggul karena aktif berpartisipasi di bidang disabilitas sebagai aktivis dan punya komitmen berkontribusi mengawali implementasi UU Disabilitas di Indonesia.

Di antara banyak tempat, yang paling menarik baginya saat bertemu 4 dari 15 pekerja Tuli di NASA, mengunjungi White House karena salah satu delegasi adalah resespionis tuli untuk Presiden Obama di West Wing-White House dan terlibat dalam pertemuan di UN dengan para aktivis hak disabilitas. 

Mahasiswa Terinspiratif

Berbagai kegiatan yang dia ikuti di komunitas selama ini sempat diragukan orang tuanya yang takut kuliahnya terlantar. Sesekali Nia memang pernah mengajukan izin pada dosen untuk mengganti waktu ujian demi mewakili Young Voices Indonesia berpidato di Parlemen UK dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional tahun 2013.

Keluarga dan dosen sempat berpikir Nia kurang memprioritaskan pendidikan. Namun, dia mampu membagi waktu antara berkomunitas dan kuliah. Terbukti, dia masuk dalam lulusan peringkat terbaik tiga besar di Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti.

“Bahkan saya dapat gelar mahasiswa terinspiratif,” ungkapnya senang.

Selama tiga tahun Nia mempimpin organisasi disabilitas muda, Young Voices Indonesia, (September 2015 – April 2018). Meski tak lagi memimpin, namun kontribusi Nia masih sangat dibutuhkan di organisasi ini. Dengan jejaring yang dimilikinya, kini Nia aktif membantu di bagian public relations.

Young Voices Indonesia merupakan perkumpulan disabilitas seperti tunanetra, tuli, tuna fisik dan tunadaksa di bawah Yayasan Wisma Cheshire. Di komunitas ini mereka mempelajari kepimpinan, mengenal hak-haknya sebagai disabilitas, dan memanfaatkan media sebagai wadah advokasi. Dari komunitas ini banyak pula peluang untuk ikut berbagai lokakarya ramah disabilitas dan memperluas networking dengan komunitas kepemudaan lainnya seperti Sinergi Muda, SSEAIP (Ship for South East Asian and Japanese Youth Program) dan lainnya.

“Kami secara tidak langsung mendorong mereka agar semakin terbiasa menciptakan pembauran disabilitas dan non disabilitas dan menjadikan suatu aktivitas yang ramah disabilitas. Sebagian dari anggota Young Voices juga berpotensi mewakili Indonesia dalam program atau kompetisi dari tingkat nasional sampai internasional,” jelas Nia yang ingin agar mereka yang tuli tetap dipanggil tuli, bukan tunarungu. Menurutnya tunarungu adalah sebuah istilah medis yang merendahkan. Sebaliknya, kata tuli bagi Nia adalah sebuah kebanggaan.

Sebagai tuli sekaligus kelompok minoritas bahasa (pengguna bahasa isyarat), menurut Nia ada beberapa permasalahan yang biasa mereka hadapi, seperti kesulitan membujuk penyelenggara acara untuk menghadirkan dua juru bahasa isyarat agar saling tandem demi menjaga efektifnya komunikasi dua arah. Rupanya, penyelenggara acara mempermasalahkan kendala bujet dan masih menganggap satu juru bahasa isyarat bisa “on” terus, padahal perlu bergantian.

Selain aktif di komunitas, Nia saat ini menjadi pekerja lepas di kantor Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia dan bekerja sama mengerjakan proyek pembuatan buku ilustrasi tentang Undang-Undang Disabilitas yang mudah dipahami oleh disabilitas intelektual.

Nia juga terlibat dalam komunitas Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT) sebagai perwakilan Tuli. Kegiatan JBFT adalah memantau aksesibilitas sarana & pra sarana tempat wisata terhadap disabilitas dan pihak yang berwajib, dimana disabilitas bisa memberi masukan terkait perbaikan aksesibilitas. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebulan sekali dan bersifat swadaya. Sebelum kegiatan dilaksanakan, perwakilan dari setiap jenis disabilitas berjumpa suatu Dinas dan Pihak dari Perusahaan Transportasi (misalnya Transjakarta) untuk bersama memfasilitasi kegiatan.

Aktif di berbagai komunitas disabilitas, Nia terbiasa memanfaatkan socmed untuk menceritakan isu disabilitas agar masyarakat memahami bahwa kita disabilitas juga orang biasa namun dengan cara yang berbeda dan memerlukan Akomodasi Yang Layak untuk mengatasi keterbatasan  masing-masing.

“Misalnya Aku Tuli dan aku butuh Akomodasi yang Layak yaitu Juru Bahasa Isyarat dalam seminar,” katanya.

Satu per satu follower instagram tergugah hatinya dan terbuka pikirannya untuk lebih mensyukuri dan memanfaatkan baik fungsi pancaindera mereka dan bersikap lebih respek terhadap disabilitas. Followers yang menyadari kebutuhan disabilitas beserta fungsinya juga ikut serta meneruskan advokasi bahkan mengingatkan orang lain jika mereka melihat ada diskriminasi terhadap disabilitas (dalam bentuk verbal / tulisan) atau penyalahgunaan fungsi kebutuhan disabilitas.

Bagi Nia, tantangan terberat yang dihadapi adalah masih rendahnya pemahaman pemerintah dan masyarakat mengenai arti dari inklusi. Tidak jarang mereka berpikir harus memperlakukan disabilitas spesial, padahal yang disabilitas butuhkan adalah aksesibilitas yang tepat dan sesuai universal design.

“Aku berharap semakin bertambah disabilitas mencetak prestasi dan masuk trending topic di socmed, kelompok millenial mendengarkan pendapat disabilitas dan kelompok millenial dari bidang masing-masing berani memulai kolaborasi dengan disabilitas yang memiliki minat sama untuk menciptakan pembauran perbedaan secara nyata.”

Terakhir, Nia berpesan untuk teman-teman tuli yang masih menutup diri dari dunia luar dan cenderung menyesali keadaan mereka saat ini.

“Menyesali keadaan diri sebagai disabilitas atau berpura-pura menjadi orang dengar itu membuang-buang waktu. Keluarlah dari zona nyaman, tunjukan passion tanpa menyembunyikan identitas sebagai disabilitas dan tularkan sisi positif pada orang-orang di sekitar “ pungkas Nia.

Penulis dan editor: Sukowati Utami

Foto: dokumentas pribadi

Biodata

Nama                    : Annisa Rahmania (nia)

Umur                    : 24 tahun

Pendidikan         : Lulusan S1 Desain Komunikasi Visual, Universitas Trisakti

Pencapaian:

  1. Mencapai The Bronze Standart of Duke of Edinburgh’s International Award, Jakarta, April 2017
  2. Berpartisipasi dalam Program Advokasi Hak Tuli sebagai narasumber, Indonesia (Jakarta-Makasar-Bali-Bandung), Maret 2017
  3. Berpasrtisipasi dalam mengunjungi Unlimited Disability Arts Festival UK sebagai delegasi, Inggris, September 2017
  4. Berpartisipasi dalam program U.S. Indonesia Youth Leadership, Cultural Exchange and Human Rights, Indonesia dan Amerika Serikat, Oktober 2015 – September 2016
  5. Menerima dua penghargaan “Mahasiswa dengan IPK Terbaik III” dan “Mahasiswa Terinspiratif”, Jakarta, September 2015
  6. Diundang sebagai pembicara terhormat dari Leonard Cheshire Disability Young Voices Indonesia “Break Barriers, open doors: for an inclusive society for all” pada Hari Disabilitas Internsional, Inggris, Desember 2013
  7. Berpartisipasi dalam pertemuan Regional Young Voices Asia pasifik, yang diorganisir oleh Leonard Cheshire Disabilty UK, Jakarta, Juni 2013
Share This