Bambang Suwerda

Dosen Politeknik Kesehatan Yogyakarta, Inisiator Bank Sampah

Mendunia dengan Bank Sampah

Berawal dari keinginan untuk mengentaskan kampungya dari serangan nyamuk demam berdarah, Bambang Suwerda menciptakan bank sampah. Setelah 11 tahun berjalan, bank sampah yang dulu hanya dijalankan pada tataran Rukun Tetangga, kini seluruh penjuru RI telah mengadopsinya. Bahkan, beberapa negara di dunia mulai tertarik mempelajari konsep bank sampah buah ide cemerlang Bambang Suweda. Bank sampah menjadi solusi penanganan sampah di masa depan.

Istilah ‘bank sampah’ makin akrab di telinga kita. Bank sampah memang bukan bank yang lazim beroperasi di bawah pengawasan Bank Indonesia, namun bank ini tak pernah mengalami masalah kekeringan likuiditas.

Sesuai dengan namanya, lingkup layanan bank sampah tentu saja di bidang pengelolaan sampah. Dengan sitem bank sampah, sampah yang biasa dibuang menjadi berharga dan bisa menghasilkan uang di bank ini. Para nasabahnya pun bisa menabung sampah dan mendapatkan uang di kemudian hari.

Adalah Bambang Suwerda, sosok di balik lahirnya bank sampah yang kini konsepnya telah diterapkan hampir di seluruh penjuru Indonesia. Perjalanan panjang merintis lahirnya Bank Sampah Gemah Ripah bermula dari kegelisahan dari nominator Kick Andy Heroes 2009 kategori lingkungan ini saat melihat demam berdarah dengue (DBD) menyerang kampungnya di RT 12, Dusun Badegan, Desa Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 11 tahun lalu. Sebagai akademisi yang paham betul tentang mengelola kesehatan lingkungan, ia menggagas pembentukan bengkel kesehatan lingkungan.

Dalam benak Bambang, dengan membentuk bengkel kesehatan lingkungan, ia bisa mengajak warga untuk lebih peduli pada kebersihan lingkungan. Dengan kepedulian tersebut diharapkan kasus DBD otomatis akan turun jumlahnya.

“Saya mulai dari hal sederhana, yakni membuang sampah, seperti kaleng bekas, pada tempatnya agar tidak menampung air. Masyarakat saya ajak untuk mengumpulkan sampah dan memilahnya. Awalnya respons masyarakat tidak terlalu bagus karena mereka menilai sampah adalah urusan dangkal yang tak perlu dibuat serius,” kata Bambang.

Respons warga yang tidak menggembirakan membuat dia harus berpikir keras. Sampai suatu saat ia melihat tayangan televisi yang menceritakan aktivitas sebuah komunitas dalam membangun bank sampah.

“Namun, konsep mereka baru sebatas mengumpulkan, lalu mengolahnya menjadi produk yang lebih bermanfaat,” katanya.

Istilah bank sampah membuat dia langsung teringat pada aktivitas perbankan. Meski latar belakang pendidikannya adalah teknik lingkungan, Bambang mencoba mengadopsi konsep bank konvensional pada bank sampah yang digagasnya. “Waktu itu saya kepikiran bagaimana mengelola sampah seperti mengelola uang di bank. Gagasan itu kemudian saya lontarkan kepada anggota kelompok dan mereka menerima,” katanya.

Setelah digodog cukup matang, momentum peringatan dua tahun gempa yang melanda Yogyakarta, tepatnya pada 23 Februari 2008, dimanfaatkan untuk meluncurkan gerakan bank sampah.

“Sebenarnya kami merencanakan tahun 2007, tapi karena masih fokus pada rekonstruksi pascagempa, baru terealisasikan pada 2008,” ungkap dosen Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta ini kepada redaksi tokohinspiratif.id.

Bambang mengakui, pada masa awal banyak warga yang masih bingung dengan konsep bank sampah sehingga gerakan tersebut berjalan kurang efektif. Baru sekitar sebulan kemudian, masyarakat bisa menerimanya.

Para peserta bank sampah disebut nasabah. Setiap nasabah datang dengan tiga kantong sampah yang berbeda. Kantong pertama berisi sampah plastik; kantong kedua adalah sampah kertas; dan kantong ketiga berisi sampah kaleng dan botol.

Setelah ditimbang, nasabah akan mendapatkan bukti setor dari petugas yang diibaratkan sebagai teller bank. Layaknya bank umum, bank sampah juga memiliki slip setoran, salinan untuk nasabah dan pengelola, serta catatan buku induk. Catatan ini juga berguna untuk mengecek harga sampah yang dijual ke pengepul. Bukti setoran juga menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah yang kemudian dicatat dalam buku tabungan nasabah.

Setelah sampah yang terkumpul cukup banyak, petugas bank sampah akan menghubungi pengumpul barang bekas. Pengumpul barang bekas yang memberikan nilai ekonomi setiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran, baru kemudian dibukukan.

Harga sampah dari warga itu bervariasi, tergantung klasifikasinya. Kertas karton, misalnya, dihargai Rp 2.000 per kilogram dan kertas arsip Rp 1.500 per kg. Sedangkan plastik, botol, dan kaleng harganya disesuaikan dengan ukuran.

Setiap nasabah memiliki karung ukuran besar yang ditempatkan di bank untuk menyimpan sampah yang mereka tabung. Setiap karung diberi nama dan nomor rekening masing-masing nasabah. Karung-karung sampah itu tersimpan di gudang bank yang terletak tak jauh dari rumah Bambang.

Tak jauh berbeda dengan bank konvensional umumnya, bank sampah juga menerapkan sistem bagi hasil dengan memotong 15 persen dari nilai sampah yang disetor individu nasabah. Sedangkan sampah suatu kelompok dipotong 30 persen. Dana itu digunakan untuk biaya operasional bank sampah.

Jika nasabah bank konvensional bisa mengambil dananya setiap saat, nasabah bank sampah hanya bisa menarik dana setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar dana yang terkumpul bisa lebih banyak sehingga uang tersebut bisa dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan yang sifatnya produktif.

“Kalau dibebaskan (nasabah bisa mengambil kapan saja), mereka bisa jadi konsumtif. Dana baru terkumpul Rp 20.000-Rp 30.000, mereka sudah tergiur mengambilnya. Dengan aturan sekali dalam tiga bulan, mereka bisa menarik dananya Rp 100.000-Rp 200.000, tergantung banyaknya sampah yang ditabung,” kata Bambang.

“Tapi kebanyakan menahannya hingga datangnya Lebaran,” kata Bambang. Tak heran, bank sampah ini kewalahan memenuhi permintaan pengambilan dana saat momen besar itu tiba.

Tak semua sampah nasabah disetorkan kepada pengumpul barang bekas. Sampah yang masih berguna dipilah untuk bahan kerajinan. Ada kelompok kerja ibu-ibu yang membuat kerajinan dari barang-barang bekas. Tentu saja, hasil pengolahan sampah ini memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan sampah biasa.

Saat awal pendirian, para pekerja di bank sampah bekerja secara sukarela. Maklum, dana bagi hasilnya belum terlalu banyak. “Targetnya kami akan ada penggajian per bulan untuk uang lelah,” kata Bambang.

Demi transparansi, harga sampah ini diumumkan secara rutin dan ditempel di papan pengumuman. Harga sampah ditentukan oleh pengepul sesuai harga pasaran pada saat itu.

Hingga kini, dana hasil penjualan sampah masih dikelola sendiri. Bambang menyebutkan, dana ini bakal dipakai untuk simpan pinjam. Saat ini manajemen bank sampah sedang mensosialisasikan wacana ini kepada para nasabah. “Rencana ini perlu juga dipikir matang-matang, terutama soal ketertiban angsuran nantinya,” katanya.

Selain pengumpulan dana, pelaksanaan bank sampah ini juga membuat lingkungan makin bersih, pembakaran sampah oleh warga berkurang, dan tempat pembuangan akhir liar pun berkurang.

Bank Sampah Gemah Ripah terus mengembangkan diri. Setelah menerima simpanan sampah plastik dan kaleng, bank sampah berniat menerima pula sampah basah dan organik. Misalnya sisa makanan atau daun tumbuhan. “Sekarang total nasabah sudah mencapai 1426 nasabah dan menerima 43 jenis kategori sampah,” kata Bambang.

Bambang tak mau sukses sendirian, ia pun mulai mengenalkan bank sampah dari satu daerah ke daerah-lain. Dan kini hampir semua daerah mempunya bank seperti ini. Karena jika suatu kota ingin meraih piala adipura maka salah satu syaratnya harus mempunyai bank untuk sampah.

“Saya senang kalau ilmu ini bisa diterapkan di tempat lain,” kata penerima penghargaan Indonesia Berprestasi Award 2009 kategori sosial kemasyarakatan.  Bambang juga meraih Kalpataru Kabupaten Bantul kategori Perintis Lingkungan. 

Setelah sebelas tahun berjalan, Bank Sampah Gemar Ripah kini telah memiliki 1400 nasabah. “Bank sampah yang dulu konsepnya masih satu RT, kini seluruh RI sudah menerapkannya,” kata Bambang. 

Tak salah bila Wakil Presiden Jusuf Kalla pun mengapresiasi ide bank sampah ini. Menurutnya saat ini penanganan sampah seharusnya tidak lagi tertuju pada pembangunan fasilitas pembuangan besar yang bisa menyerap anggaran tetapi tidak efektif dari sisi manfaat bagi masyarakat. Bank sampah menjadi solusi penanganan sampah di masa depan. 

Bahkan, pada 12 Desember 2018, bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang diundang untuk mempresentasikan konsep bank sampah buah ide cemerlangnya di Polandia. “Ke Polandia bersama Bu Menteri KLHK dan Bu Dirjen Pengelolaan Sampah,” cetus Bambang. 

Bertempat di Paviliun Indonesia, Bambang didaulat menjadi salah satu pembicara dalam sebuah talkshow bertema ”Indonesian Concrete Action On Reducing Plastic Waste”. Talkshow dihadiri oleh para mitra organisasi internasional, negara anggota UNFCCC, komunitas bisnis, NPO / LSM Internasional, pelaku perubahan iklim dan lembaga pemerintah. Dalam paparannya, Bambang menyampaikan gerakan masyarakat dalam mengurangi sampah melalui praktik bank sampah di tingkat komunitas. 

“Bank sampah ini khas Indonesia sekali. Ada gotong royong, kebersamaan, pendidikan. Semua aspek masuk dalam bank sampah ini. Dari sisi rumpun domain bank, ada proses dan ada nilai ekonomi. Dari rumpun sampah ada aspek pemberdayaan. Dari aspek teknik lingkungan, kesehatan masyarakat, dari aspek sosial, masuk semua,” cetus Bambang. 

*** 

Bambang Suweda lahir di Sleman, 9 Juli 1969. Anak kelima dari sembilan bersaudara ini hidup di sebuah desa yang teduh dengan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. 

Tak terkecuali dengan ayah Bambang. Meskipun tercatat sebagai pegawai negeri, namun setiap selepas subuh, ia selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan sawah dan mengajak Bambang bersamanya. Sambil menghirup udara pagi yang segar, Bambang kecil selalu mendengar petuah petuah bijak dari sang ayah agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat banyak dan tak pernah lelah berbagi kebaikan. 

Bambang yang bercita-cita menjadi dokter ini menamatkan pendidikan dasarnya di Sleman, dan melanjutkan kuliah di Program Diploma III di Akademi Penilik Kesehatan Teknik Santitasi di Yogyakarta. Tiga tahun berselang, Bambang menempuh pendidikan diploma IV di Institut teknologi Surabaya dengan memilih jurusan teknik lingkungan dan program strata dua ditamatkan di Universitas Gadjah Mada. 

Kini, Bambang aktif mengajar sebagai dosen di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan di Yogyakarta, di samping bergiat untuk melakukan sosialisasi bank sampah di seluruh penjuru tanah Air. Sosok ramah yang tak pelit berbagi ilmu ini juga aktif dalam salah satu pokja di Dewan Pengarah dan Pertimbangan Persampahan Tingkat Nasional. Dia juga selalu tampil untuk menyemangati anak-anak muda, terutama kalangan mahasiswa agar selalu peduli dengan kesehatan lingkungan sebagai upaya preventif terhadap penyebaran penyakit. 

Khusus tentang bank sampah, Bambang berharap perjuangan yang telah dirintis tidak hanya berhenti pada dirinya. Anak-anak muda, harapnya, harus melanjutkan tongkat estafet perjuangan ini. Karena ada banyak nilai yang mengiringi lahirnya bank sampah, mulai dari pendidikan, gotong royong, hingga sebagai wadah pembelajaran social entrepreneur bagi kawula muda milenial. 

“Ada kepedulian sosial di dalam proses di bank sampah ini. Dan kita bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Itu yang sering saya telankan kepasa semua mahasiswa ataupun pelajar.” 

Kepada pemerintah, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang mengucapkan terima kasih atas dukungan dan pendampingan sehingga bank sampah bisa tumbuh dan berkembang pesat seperti sekarang. Namun satu hal, Bambang menekankan perlunya sinergitas antarlembaga pemerintah agar pengembangan bank sampah bisa searah dan sejalan dengan lembaga atau kementerian lain. 

Terlebih, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk menetapkan target untuk pengurangan sebesar 30 persen dan penanganan sampah dengan benar sebesar 70 persen dari total timbunan sampah pada tahun 2025. Target tersebut dinyatakan secara resmi pada Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional tentang Pengelolaan Sampah. 

“Dengan adanya kolaborasi antarlembaga, saya yakin reduksi sampah secara nasional akan semakin tinggi sehingga target pengurangan sampah nasional sebesar 30 persen pada 2025 akan terwujud.” 

Riwayat Hidup

Nama                           : Bambang Suwerda,SST, Msi

Tempat tanggal Lahir  : Sleman, 9 Juli 1969

Status pernihakah        : menikah, memiliki 3 anak

Pekerjaan                     : Dosen Politeknik Kesehatan Yogyakarta Pendiri Bank Sampah Gemah Ripah

e-mail                          : bambang.suwerda@gmail.com

 

Riwayat Pendidikan

Program Diploma III di Akademi Penilik Kesehatan Teknik Santitasi di Yogyakarta

Program Diploma IV Teknik Lingkungan Institut Teknologi Surabaya

S2, Universitas Gadjah Mada

 

Penghargaan

Indonesia Berprestasi Award 2009 kategori sosial kemasyarakatan

Kalpataru Kabupaten Bantul kategori Perintis Lingkungan

Nominator Kick Andy Heroes 2009 kategori lingkungan.#