Doddy Kurniawan Kaliri

Pegiat UMKM Khusus Difabel

 

Motor Penggerak Difabel untuk Berwirausaha

Keterbatasan fisik melecut dirinya untuk lebih berdaya memperjuangkan hak kaum difabel yang selama ini terpinggirkan. Doddy Kuniawan Kaliri aktif mengadvokasikan program pembangunan dan anggaran pemerintah untuk disabilitas, mengembangkan sistem ekonomi yang inklusif melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan merintis Ikatan Pengusaha Inklusif. Doddy juga fokus dalam mengembangkan literasi digital serta mengadvokasikan partisipasi disabilitas dalam pemilihan umum dan politik. 

Siapa bilang penyandang difabel tidak bisa berkarya seperti orang-orang pada umumnya. Pandangan sebelah mata sebagian orang serta minimnya fasilitas publik bagi kaum difabel tidak menjadi sebuah hambatan untuk meratapi hidup. Paling tidak, itulah yang dirasakan Doddy Kurniawan Kaliri untuk terus berkarya. Pengusaha UMKM ini ingin agar kaum difabel bisa memiliki kemampuan untuk bekerja serta mendapat perlakuan yang setara dengan orang lain. 

Doddy adalah seorang disabilitas daksa. Sejak lima tahun terakhir, pria yang kini menetap di Yogyakarta ini aktif membangun usaha yang bersifat inklusif. Ada dua lini yang dia tangani: dari sisi internal dan eksternal.

Di lini internal, Doddy merangkul teman-teman sesama difabel untuk berjejaring dan membentuk organisasi difabel. Ibarat pepatah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, Doddy berusaha merapatkan barisan sesama difabel agar suaranya didengar oleh pengambil kebijakan.

Setelah sisi internal dibangun, Doddy dan teman-teman mulai mendorong pemerintah untuk membentuk sistem ekonomi yang inklusif melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Doddy juga aktif mengadvokasikan program pembangunan dan anggaran pemerintah untuk disabilitas. Lebih dari itu, lulusan fakultas teknik elektronika STTNAS Elektronika Yogyakarta ini juga menjadi salah satu difabel yang aktif mendorong pemenuhan hak disabilitas dalam hal politik, seperti pada saat pemilihan umum.

Suatu ketika pada Agustus 2016, persisnya saat peringatan Hari UMKM Nasional, Dinas Koperasi dan UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan kegiatan bersama para UMKM binaannya di Pusat Layanan Terpadu DIY. Dalam acara itu berbagai macam kegiatan digelar, diantaranya adalah kelas belajar UMKM dan business matching.  Doddy ikut serta dalam acara itu sebagai peserta.

Tak disangka, ternyata acara itu menjadi momen besar bertemunya pengusaha difabel dan warga non difabel sebagai pembeli. Pertemuan bussines matcing itu pun belanjut ke kemitraan bisnis.

“Kami tak menyangka acara itu begitu luar biasa. Kami bisa bertemu dengan para peminat bisnis kami dan  sebagian telah meneken kontrak kerjasama,” kata Doddy saat berbincang dengan tokohinspiratif.id awal November 2018.

Doddy sejak 15 tahun terakhir aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan kaum difabel menganggap itu sebagai momen langka yang tak boleh disia-siakan. Ia pun membagikan pengalaman mengesankan itu kepada semua rekan-rekan pengusaha difabel se-Yogyakarta.

“Usai acara, kami berdiskusi, bagaimana kalau kita tetap dalam satu grup UMKM penyandang disabilitas dan menggali informasi di tempat lain,” kata Doddy yang jujur mengakui bahwa selama ini kegiatan UMKM yang dilakoni teman-teman difabel tidak dirancang dengan baik, alih-alih mempunyai agenda tetap.

Untuk melancarkan komunikasi, Doddy sengaja membuat grup whatsapp bernama Ikatan Pengusaha Inklusi (Ipin). Grup ini beranggotakan 30 orang dengan Doddy sebagai moderatornya.

Komunikasi makin lancar, dan penyebaran informasi dari pihak-pihak terkait semakin mudah diakses dari grup ini. Juga ketika ada informasi terbaru dari Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kabupaten Sleman, di mana mereka menjadi mitra di sana.

Sejak beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sleman membangun rumah kreatif sebagai wadah pendampingan bagi pengusaha-pengusaha UMKM di Sleman, tak terkecuali bagi warga difabel. Doddy memanfaatkan kesempatan itu untuk memberdayakan para pelaku UMKM dari kalangan difabel untuk bergabung di sana.

“Di situ banyak informasi didapat. Mulai dari pelatihan informasi digital hingga pelatihan-pelatihan UMKM tanpa biaya. Setelah kami masuk di sana, informasi tergali terus.”

Tak hanya informasi yang deras mengalir, rupanya jejaring Doddy dan teman-temannya makin luas, termasuk dengan pengusaha yang non difabel. Doddy dan kelompoknya pun dilibatkan dalam pameran  yang digelar selama setahun penuh.

“Kami diberi stand pameran di Jogja City Mall selama setahun penuh,” katanya berbangga.

Dalam rangka HUT UMKM tahun 2018, Doddy dan para pengusaha difabel juga diundang meramaikan bazar. Pendek kata, Doddy dan kelompok difabelnya kian banyak mendapatkan udangan menghadiri acara-acara pameran UMKM di Yogyakarta dan sekitarnya.

Acara-acara seperti ini diakui Doddy menjadi pelecut semangat bagi para pengusaha-pengusaha UMKM difabel. Tak hanya rasa percaya diri yang meningkat, dari sisi ekonomi pun mampu mendongkrak perkembangan UMKM warga difabel.

“Teman-teman sudah mulai menjaring relasi dengan rekan bisnis yang lain. Pelanggan baru makin bertambah.”

Bagi rekan-rekan sesama difabel, Doddy adalah lidah penyambung informasi-informasi baik dari pemerintah maupun kalangan dunia usaha dan pendidikan. Doddy yang tak pelit berbagi ilmu ini juga selalu mendorong teman-temannya untuk masuk ke komunitas-komunitas kreatif yang selama ini telah terbangun dengan baik.

“Saya mengajak teman-teman untuk masuk rumah kreatif sleman yang digagas oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman. Di sana kan  ada pelatihan setiap Rabu tentang online bisnis didukung oleh ecommers-nya Telkom.”

Hanya saja, pelatihan itu dilaksanakan di lantai tiga. Itulah yang menjadi kendala utama para difabel yang memakai kursi roda untuk mengkases lokasi karena hanya tersedia tangga untuk menjangkaunya. Walhasil, mereka harus digendong untuk bisa sampai di sana.

“Kami sangat ingin belajar, tapi persoalan aksesibilitas masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah,” ungkap Doddy yang akhirnya sukses mendorong Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman untuk menggelar model dan lokasi pelatihan yang bisa dijangkau oleh kelompok difabel.

Doddy menegaskan, kaum difabel, dalam hal ini pengusaha difabel mempunyai hak yang sama dengan pengusaha non difabel. Karena itu terobosan-terobosan kebijakan harus dilakukan oleh pemerintah. Hal pertama yang harus dilakukan adalah pemrintah harus membangun fasilitas-fasilitas publik yang ramah difabel. Misalnya ketika membuat pelatihan, juga harus ada program pelatihan bagi kaum disabilitas, termasuk memikirkan tentang aksesnya.

Selanjutnya adalah fasilitas sertifikasi produk industri rumah tangga (PIRT) yang ramah difabel. PIRT adalah semacam standarisasi produk indutri rumah tangga untuk bisa dipasarkan ke supermarket dan toko-toko besar. ”Kami mengharapkan juga disediakan kuota untuk warga difabel,” cetusnya.

Terkait dengan data pengusaha difabel yang masih sangat minim, Doddy dan teman-teman difabelnya telah telah menggagas kerjasama dengan komunitas-komunitas lain untuk membuat data pengusaha UMKM difabel melalui google form.

“Saya berharap, data pegusaha difabel ini bisa sampai ke peta digital, sehingga bila ada yang membutuhkan produk kami, tinggal search di google dan langsung keluar lokasinya.”

***

Doddy Kurniawan Kaliri lahir di Balikpapan 5 Oktober 1974. Sulung dari tiga bersaudara ini sesungguhnya ia terlahir normal hingga suatu ketika demam tinggi menyergap tubuh mungilnya saat berusia delapan bulan.

Dokter memang bisa menetralkan suhu badan Doddy dengan sebuah suntikan. Namun sayang, setelah itu kaki Doddy jadi layu, tak bisa digerakkan. Doddy pun harus menerima kenyataan bahwa kakinya tak lagi bisa tumbuh sempurna.

Masa kecil Doddy yang penuh sukacita dihabiskan di kota Balikpapan. Otaknya yang encer, membuatnya selalu menduduki peringkat lima besar di kelas. Dukungan dan motivasi dari kedua orangtuanya membuat Doddy  tak pernah minder dengan keterbatasan fisiknya.

Lulus SMA pada 1994, Doddy memilih melanjutkan kuliah di kota Yogyakarta. STTNAS Elektronika Fakultas Elektronika menjadi tujuannya. Kuliahnya berjalan lancar dan lulus tepat waktu.

Suatu ketika, bapak satu anak ini diundang oleh SLB Pangukan Sleman untuk memperbaiki beberapa unit komputer di sana. Hasil kerjanya yang bagus, membuat dia menjadi langganan SLB itu untuk servis komputer dan perangkat elektronik lain.

Pertemuannya dengan Pak Budiono, salah satu petinggi SLB Pangukan, telah mengubah jalan hidupnya. “Suatu ketika beliau mengatakan, kepintaranmu tidak bermanfaat kalau tidak dibagi dengan teman-teman difabel yang lain. Banyak teman-temanmu yang difabel ndak bisa apa-apa,” Doddy membuka lagi ingatan 15 tahun silam.

Ucapan itu begitu membekas di benak Doddy. Dia baru tersadar bahwa selama ini banyak kaum difabel yang membutuhkan bantuan. Itulah titik balik Dody yang akhirnya aktif bergiat di berbagai pertemuan kelompok difabel dan mengikuti pelatihan pendidikan politik, ketrampilan, dan banyak hal lagi yang lain.

“Ilmu-ilmu itu menjadi bekal dan menguatkan saya untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilaitas di segala aspek. Saya ingin menerobos dinding penghalang yang memisahkan hak-hak antara kaum difabel dan orang normal. Orang umum dapat kenapa difabel tidak,” cetus memilih fokus ke UMKM karena dia sendiri adalah seorang pelaku usaha.

Menurut Doddy, ekonomi menjadi masalah serius bagi warga difabel bila tidak dibantu bangkit dan berdaya. Banyak keterbatasan-keterbatasan, tidak saja faktor internal tapi juga persoalan kebijakan yang selama ini kurang berpihak kepada mereka. UMKM, lanjutnya, akan menjadi persoalan besar bagi kaum difabel bila mereka tidak didorong ke arah yang setara.

“Kalau tidak, kami akan tertinggal terus. Karena yang lain sudah difasilitasi, kami dari kalangan difabel harus mendapatkan hak yang sama,” ucap Doddy yang pada 4 Februari 2010 mendirikan Organisasi Difabel Melati (ODM) bersama teman-temannya.

Organisasi dimana Doddy duduk sebagai ketua ini bertujuan untuk mengadvokasi kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh anggota-anggota ODM, yaitu semua penyandang disabilitas yang ada di wilayah Kecamatan Mlati, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan yang sudah berjalan selama ini adalah memberikan bantuan advokasi untuk para anggotanya bahkan sampai dengan pendampingan kasus hukum bagi difabel yang menjadi korban kekerasan.

Saat ini, Doddy bersama teman-temannya sedang mengembangkan hidroponik. Mereka menanam kangkung, bayam, dan pakcoi. Hasilnya cukup bagus, dan bahkan sudah panen dua kali. Untuk urusan pemasaran, Doddy mengkoordinasikan dengan dinas pertanian setempat dan berharap bisa memasok supermarket atau pasar-pasar modern.

Bagi Doddy, menjadi difabel adalah takdir, tapi menjadi sukses adalah hak setiap orang sehingga kita harus memperjuangkan. Karena itu, pesannya, seorang difabel tidak boleh terkekang dalam keterbatasan.

“Terus semangat, terus berjuang, dan selalu berbuat baik agar semua usaha kita dimudahkan oleh Tuhan,” pungkas Doddy.

 

Riwayat Hidup

Nama               : Doddy Kurniawan Kaliri

TTL                 : Balikpapan 5 Oktober 1974

Keluarga          : Menikah dan memiliki satu anak

Moto hidup     : Lakukan Segala Sesuatu dengan Nilai Ibadah

 

Penddidikan :

Fakultas Elektronika STTNAS#

 

 

Share This