• Diaspora Indonesia di Jerman
• Kepala Grup Riset OptoSense di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA), Technische Universitatet Braunschweig, Jerman

Bakti untuk Negeri

Sukses dan terhormat di negeri orang tidak menggerus identitas dan rasa cinta Dr.-Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng. pada Tanah Airnya, Indonesia. Mendirikan lembaga kerjasama Indonesia-Jerman di bidang nano dan quantum yang diberi nama Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano), saintis kelahiran kota gudeg ini membuka diri untuk menjembatani sebanyak-banyaknya akademisi Indonesia, untuk mendapatkan manfaat keilmuwan Jerman yang ia miliki.

Ketiklah nama Hutomo Suryo Wasisto pada mesin pencari google. Tak lebih dari satu detik, akan muncul 12.300 berbagai artikel tentang sepak terjang dan deretan prestasi ilmuwan muda yang mendunia ini.

Di kalangan diaspora Indonesia nama Hutomo Suryo Wasisto cukup masyhur. Pria yang baru saja menggenapi usia yang ke 32 tahun ini menjadi salah satu diaspora muda yang sukses di luar negeri. Karena kecerdasannya, dia dinobatkan peraih gelar doktor termuda di Jerman. Kini ia dipercaya sebagai group leader atau setara dengan Assistant Professor di negara lainnya seperti Amerika atau Inggris. Hal ini dikarenakan di posisinya sekarang, Hutomo mempunyai sebuah grup riset sendiri di mana arah risetnya diputuskan olehnya.

Penampilan Hutomo jauh dari kesan serius seperti image para ilmuwan. Ito, demikian ia biasa disapa, berpenampilan tak beda dengan anak muda metroplitan jaman now. Model rambut dan busana kasual yang trendy untuk saat santainya, ia pun gemar berolahraga terutama basket. Dia selalu menyempatkan bermain basket dan bahkan mengikuti lomba bersama teman-teman Indonesia lainnya di Jerman dan Eropa.

Bicaranya pun santai bahkan sering berbahasa Jawa bila berkomunikasi dengan teman-temannya. Padahal ia adalah engineer di bidang Teknik Elektro yang berkarir di Jerman dan menjabat sebagai Kepala Grup OptoSense di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) yang merupakan salah satu research centre di Technische Universitatet Braunschweig. Kegiatan yang ada di LENA berkonsentrasi di bidang pengukuran yang sangat presisi untuk berbagai material dan devices dalam ukuran nano. Ito juga sangat sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai konferensi internasional teknik elektro dan material, terutama sebagai narasumber teknologi nano.

Ito memang sangat dikenal di kalangan ahli teknologi nano internasional. Ia telah menerbitkan lebih dari 46 makalah ilmiah berupa jurnal internasional peer-review dan berkontribusi sebanyak lebih dari 130 presentasi di konferensi ilmiah internasional. Ito mempunyai dua paten di Jerman dan Eropa. Prestasinya yang begitu mengagumkan membuat pemerintah Jerman terpesona dan menganugerahi Ito dengan hak tinggal khusus untuk warga non Jerman berkualifikasi hebat.

Sukses dan terhormat di negeri orang tidak menggerus identitas dan rasa cinta Ito pada Indonesia. Ia mendirikan lembaga kerjasama Indonesia-Jerman di bidang nano dan quantum yang diberi nama Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano).

Langkah awal lembaga ini memfasilitasi pendidikan S3 dan penelitian untuk para ilmuwan muda LIPI di bidang nano dan quantum di Technische Universitaet Braunschweig. Berikutnya, IG-Nano memperluas kerjasama dengan ilmuwan-ilmuwan Indonesia di luar LIPI termasuk dengan sejumlah universitas. Ito menegaskan, ia tak mau pikiran dan tenaganya hanya dicurahkan untuk Jerman.

***

Hutomo Suryo Wasisto lahir di Yogyakarta, 7 September 1987. Dilahirkan dari keluarga dokter, anak kedua dari tiga bersaudara ini sudah merasakan atmosfer kompetisi di keluarga sejak belia.

Sang kakak, merupakan “saingan terberatnya”.  Hanya selisih satu tahun usia keduanya, membuat berkompetisi secara sehat dalam meraih presetasi akademik selalu terasa seru baginya.

“Saya ada kakak, sejak kecil sering ‘berkelahi’ sama dia, tapi berkelahi positif. Kita di rumah pun ada kompetisi, nunjukin kita terbaik. Kakak saya juara dari SD, jadi juara paralel, kami satu SMP, satu SD. Kita selalu menjadi juara satu dan dipanggil setiap akhir semester ketika upacara bendera untuk mendapatkan penghargaan dari sekolah,” ceritanya.

Ito memiliki prinsip semakin ditantang, maka ia akan semakin penasaran. “Semakin ingin membuktikan, itu kenapa saya bisa survive di Jerman, karena terbiasa seperti itu. Tidak sedikit yang terus meremehkan saya karena muda, kurang jam terbang, dan alasan lainnya, Tapi tidak masalah, saya selalu senang bila ada orang yang “tidak suka” dengan apa yang saya ingin raih.” ungkapnya.

Jebolan SMA Negeri 3 Yogyakarta ini memang sudah menonjol potensi akademiknya sejak di bangku sekolah. Bersekolah di SD Negeri 1 Purbalingga, Jawa Tengah, Ito kecil sudah menjadi langganan juara kelas. Tak main-main, mulai kelas satu sampai kelas enam predikat sebagai juara kelas terus menempel pada dirinya. Menurut Ito, hal itu tak lepas dari didikan orang tuanya.

“Saya tuh orangnya enggak minderan, berkat didikan orang tua saya. Orang tua saya selalu menanamkan, jangan lihat kamu di mana yang penting kamu harus terbaik di manapun kamu berada. Kita diberikan kesempatan yang saya, asal kita mau bekerja keras, pasti bisa untuk menjadi yang terbaik.,” ungkap Ito.

Ito yang juga dikenal sebagai Abas alias anak basket ini mengungkapkan, saat SMA sebenarnya ia benci pelajaran bahasa Jerman. Ia mengaku sering membolos waktu mata pelajaran bahasa Jerman berlangsung. Ito bercerita, “Iya, awalnya saya merasa susah sekali bahasa ini. Hal ini dikarenakan adanya aturan-aturan yang berbeda  dalam bahasa Jerman dengan bahasa Inggris yang tidak mudah dipelajari. Salah satu contohnya adalah perbedaan penggunaan kata depan. Kalau di Inggris kita mengenal “the” untuk ditaruh di depan semua kata benda. Kalau di Jerman kita harus membedakannya menjadi “der”, “die”, dan “das” tergantung sifat dari kata benda tersebut. Awalnya saya berpikir, ini kurang kerjaan aja menghafal dan belajar kayak gini.”

Namun ternyata, mata pelajaran yang ia benci itu justru yang saat ini membawanya menjadi Research Group Leader di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) and Institute of Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Jerman. Ito kini sangat lancar berbahasa Jerman dan bahkan memberikan kuliah di kelas dalam bahasa Jerman. Ito menyarankan, “Bagi yang ingin berkarir atau stay di Jerman, saya sarankan dari awal untuk belajar bahasa Jerman. Gampang? Tidak, tapi sangat mungkin untuk dipelajari.”

“Jadi hidup saya gini, apa yang saya benci itu yang saya alami, saya hadapin. Tapi saya punya prinsip apapun yang saya hadapi, saya harus lakukan the best-nya, saya harus lakukan the best di situ.”

Ito yang menyelesaikan sekolah menengah atas melalui jalur akselerasi selama dua tahun ini, mengaku stressed saat gagal pada seleksi penerimaan mahasiswa kedokteran di UGM. Karena, sejak SMA dia sudah sering diajak kedua orangtuanya untuk ikut praktik di rumah sakit dan melihat pasien. Di situlah Ito mulai terbayang bagaimana menjadi seorang dokter.

Meski begitu ia menerima takdirnya untuk masuk jurusan teknik elektro dan kini justru berterima kasih karena ditolak fakultas kedokteran UGM. “Karena kalau diterima di kedokteran mungkin jalan hidup saya bisa jadi lain ceritanya,” terang dia.

Semangatnya untuk menjadi yang terbaik mendorong Ito berusaha sekuat tenaga. Dan benar saja, Ito meraih predikat cumlaude dan menjadi lulusan terbaik, termuda, dan tercepat dengan menyelesaikan program S-1 selama tiga setengah tahun. “Saya menjadi yang pertama dan satu-satunya mahasiswa angkatan 2004 yang menyelesaikan S-1. Jadi saat acara wisuda teman-teman saya angkatan 2002 dan 2003,” ungkapnya.

Menyelesaikan program S-1 pada usia 20 tahun, Ito kemudian melanjutkan pendidikan program S-2 di Taiwan. Padahal saat itu tawaran beasiswa program S-2 dan juga tawaran bekerja di perusahaan tidak sedikit. Ito saat itu pun memutuskan melanjutkan pendidikan program S-2 di Taiwan.

“Itu juga karena kebetulan. Waktu itu enggak tahu mau nerusin kemana. Padahal waktu itu sudah mau ke Jerman. Saya ditelepon oleh seorang profesor dari Taiwan saat lagi fitness,” katanya.

Dalam benak pria yang dikaruniai dua orang anak dari buah pernikahannya dengan Sekar Dian Wulandari, 30, saat itu Taiwan hanya ‘Meteor Garden’. Dia tidak tahu sama sekali negara Taiwan. Setibanya di Taiwan, ia mempelajari pembuatan integrated circuits (ICs) dan chips dalam telepon genggam. Padahal, bidang elektronik adalah bidang yang paling dibenci olehnya.

“Kan ribet banget bikin sirkuit,” ucapnya.

Meskipun tidak suka, lagi-lagi Ito menyelesaikan salah satu mahasiswa terbaik dalam menempuh program S-2 spesial tersebut yang menggabungkan riset antara industri dan universitas.

“Jadi kenapa saya mau ambil yang di Taiwan? Karena saat itu dalam program tersebut ada peluang untuk langsung menjadi pegawai tetap di perusahaan semikondurtor di Taiwan. Dulu ada anggapan bahwa kalau sekolah tinggi-tinggi akan susah cari kerjanya. Oleh karena itu banyak teman saya yang saat itu memutuskan untuk langsung bekerja ketika lulus S1. Namun saya selalu ingin menjadi yang berbeda dibanding kebanyakan orang. Makanya saya milih jalan langsung lanjut kuliah lagi di Taiwan, dengan program master-by-research.”

Bahkan ia memperoleh penghargaan dari Asia University, Taiwan selama menjalani program S2 tersebut. Dengan prestasi yang ia raih saat itu, negara Taiwan menginginkannya membangun negeri dengan julukan Naga Kecil Asia itu. Tetapi dengan tekad bulat, Ito memilih melanjutkan pendidikan program S-3 di Jerman.

”Idola saya sejak kecil itu Pak Habibie. Jadi saya ingin sekali sekolah di tempat Pak Habibie,” katanya.

Pada awal kedatangannya di Jerman, Ito langsung bekerja sebagai Research Scientist (Wissenschaftlicher Mitarbeiter) di Institute of Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Germany.

“Jadi memang di Jerman itu PhD student bisa dikelompokan menjadi dua tipe. Yang pertama adalah PhD student yang bekerja sebagai staff di universitas tersebut melakukan proyek riset tertentu dengan tanggung jawab yang sangat besar. Tipe yang ini akan mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya tersebut. Kalau yang kedua ya PhD student yang merupakan penerima beasiswa, baik itu dari negara asal atau dari pemerintah Jerman sendiri. Nah saya waktu itu ketika program doktoral, mendapatkan kesempatan untuk menjadi PhD student yang tipe pertama”, kata Ito

Ia juga berhasil mewujudkan mimpinya untuk mendapatkan gelar Doktor-Ingenieur atau yang biasa disingkat menjadi “Dr.-Ing.” dalam bidang Teknik Elektro, Teknologi Informasi, dan Fisika dari TU Braunschweig. Tak main-main, ia mendapatkan predikat paling tinggi yang orang Jerman pun tidak banyak mendapatkannya, yaitu Summa Cum Laude atau “Dengan Kehormatan/ Pujian Tertinggi” saat masih berusia 26 tahun.

Ito sempat ke Amerika untuk melanjutkan risetnya di bidang Microelectromechanical Systems (MEMS) dengan menjadi Postdoctoral Research Fellow di Georgia Institute of Technology, Atlanta, GA, USA. Riset pascadoktoral ini sangat penting untuk menambah jam terbang seorang peneliti yang baru saja menyelesaikan S3-nya. Hal ini dikarenakan, dalam karir akademis, nantinya para doktor akan dituntut untuk mengembangkan risetnya sendiri dan mendapatkan funding sendiri ketika sudah menjadi Group Leader atau Professor. Oleh karenanya, fase Postdoktoral inilah yang digunakan untuk menjembati antara lulus S3 yang baru saja selesai dengan posisi Group Leader, supaya pengalaman riset individu tersebut bertambah dan nantinya bisa mengembangkan risetnya sendiri.

Hanya kurang dari satu tahun di Amerika, kemudian ia diundang kembali ke Jerman, dengan ditawari posisi yang sangat strategis. Kembalinya Ito ke Jerman kali ini ia diganjar mendapatkan permanent residence for high qualified person dari pemerintah Jerman. Lagi-lagi ia mendapatkan apa yang idolanya dapat ketika di Jerman.

“Ketika saya ke Amerika, orang Jerman di universitas saya katanya rindu, katanya rindu enggak ada yang bisa publikasi kayak kamu,” ujarnya.

Kembali ke Jerman ia pun menjadi Group Leader “Optoelectromechanical Integrated Nanosystems for Sensing (OptoSense)” di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA) and Institute of Semiconductor Technology (IHT), Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Jerman.

Berkat kepakarannya di bidang akademik, ia bahkan mendapat banyak keistimewaan berupa berbagai fasilitas serupa dengan yang dimiliki Presiden ke-3 Indonesia B.J Habibie saat di Jerman. Ito menuturkan, perjuangannya menembus bahkan hingga mendapatkan permanent resident di negara Panser ini tidaklah instan.

Melalui karier akademiknya yang gemilang, Ito berhasil mewujudkan cita-citanya untuk membawa orang Indonesia ke Jerman. Ia mendidik dan mengembalikan banyak akademisi Indonesia ke Tanah Air, salah satunya dengan menjadi Initiator and Chief Operating Officer (COO) Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano),Technische Universität Braunschweig, Braunschweig. Selain itu Ito kini aktif sekali menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia, khususnya dengan Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Sudah tiga tahun berturut-turut, dari 2017 sampai dengan 2019, Ito diundang oleh Ditjen SDID untuk mengikuti program Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD). Program ini menurut itu sangat baik karena sifatnya yang berkelanjutan dan targetnya jelas.

“Jadi tidak hanya kumpul-kumpul diaspora saya, melainkan kita sudah menyusun strategi dan langkah yang konkret dengan partner lokal yang ada di Indonesia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi bersama-sama. Jadi nantinya ada sinergi antara ilmuwan Diaspora dengan ilmuwan dalam negeri. Hal ini akan mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia dan juga pembangunan serta manajemen sumber daya manusia (SDM), yang saat ini menjadi prioritas pemerintah Indonesia.”

Begitu pula dengan universitas-universitas di Indonesia, ia sudah melakukan riset bersama, membimbing mahasiswa Indonesia bersama, dan menulis proposal proyek bersama dengan para dosen dan peneliti di Indonesia. Hal ini dapat dikatakan adalah cita-citanya sedari kuliah di Indonesia. Saat itu Ito sudah ingin menjadi diaspora dan tinggal di luar, namun ikut berperan aktif membangun Indonesia.

“Jadi memang saya sangat mendukung program pemerintah untuk membangun Indonesia dari seluruh pelosok dunia. Jadi tidak harus tinggal di Indonesia. Tinggal di Indonesi bagus, tapi tinggal di luar juga tidak salah karena kita butuh orang-orang yang bisa memberikan akses untuk melakukan riset di luar negeri kepada teman-teman kita yang ada di Indonesia. Jadi yang jelas asal kita bisa kontribusi aktif ke bangsa dan negara, tempat tinggal tidak menjadi masalah. ”

Ia menilai, itu merupakan bentuk nasionalisme yang dapat ia berikan kepada bangsa Indonesia, meski pun secara keilmuan ia memang dibesarkan di Jerman.

“Jangan sampai ilmu, pengetahuan, dan energiy saya dimanfaatkan hanya oleh Jerman saja. Saya memang dibesarkan, diberikan akomodasi oleh Jerman, seperti pendidikan, keleluasaan untuk melakukan riset, dan juga pendidikan bahasa Jerman. Cuma saya selalu ingin berbuat sesuatu untuk bangsa saya. Walaupun kecil, apapun akan saya lakukan, lewat jalan apapun, sehingga nantinya makin banyak lagi orang-orang yang bisa berpikiran optimis terhadap bangsa dan negara kita. Ya, rasa kebangsaan saya terusik,” ujarnya.

“Dengan pertukaran pelajar, dosen, peneliti untuk belajar nanoteknologi lebih lanjut di Jerman, saya ingin berbuat sesuatu untuk negara saya.”

Apakah ada keinginan berkarir di Tanah Air? Diplomatis Ito menjawab, bukan masalah tempatnya di mana. Yang paling penting adalah seberapa besar kontribusi yang bisa diberikan kepada bangsa dan negara.

“Jadi maksudnya, kalau saya lebih bisa berguna di luar, saya akan di luar. Kalau suatu saat ternyata saya lebih bisa berguna di Indonesia dan impaknya lebih besar di sana, maka saya akan kembali. Itu prinsip saya. Jadi impak mana yang lebih besar, itu yang saya ambil, karena memang saya ingin membangun Indonesia. Saat ini kebetulan jalannya di luar sebagai scientific diaspora,” Ito memungkasi.

Riwayat Hidup

Biodata

Nama                : Dr. – Ing. Hutomo Suryo Wasisto, M.Eng.

TTL                   : Yogyakarta, 7 September 1987

Facebook         : hutomosuryowasisto

Instagram        : hutomowasisto

Website            : https://www.tu-braunschweig.de/mib/lena/nachwuchsgruppen/optosense

Pendidikan

 S1 Teknik Elektro dengan predikat cum laude di Universitas Gadjah Mada (UGM), Indonesia

S2 Teknik Semikonduktor di Asia University, Taiwan

S3 Teknik Elektro dengan predikat Summa Cum Laude di Technische Universität Braunschweig, Jerman

Fungsi dan penghargaan terkait sains lainnya

 Sejak 2013      Peninjau untuk lebih dari 20 jurnal ilmiah internasional dan komunitas penelitian (misalnya, Jurnal IEEE Sistem Mikroelektromekanik, Jurnal Sensor IEEE, Transaksi IEEE pada Industri Elektronik, Jurnal TIO Mikromekanik dan Rekayasa Mikro, Sensor dan Aktuator B: Kimia, Sensor, dan Aktuator B: Kimia, Sensor, dan Aktuator A: Fisik , ACS Nano-Micro Letter, Aerosol Science & Technology, Jurnal Bahan Berbahaya, dan Sains Permukaan Terapan)

Sejak 2012      Pengawas 16 PhD (12 Co-Supervision), 22 Magister, 4 Sarjana, 9 Asisten siswa (termasuk 1 mahasiswa Magister di Institut Teknologi Georgia, AS)

Sejak 2018      Editor Tamu untuk “Sensor” oleh MDPI (ISSN 1424-8220) dengan Masalah Khusus “Sensor Kantilever” (2018) dan “Kabel Semikonduktor untuk Sensor” (2019)

2018                MRS-id Young Materials Scientist Award 2018 dari Masyarakat Riset Material Indonesia (MRS-id), Bali, Indonesia

2017 – 2019     Sarjana Kelas Dunia terpilih di “Simposium Sarjana Kelas Dunia (Dalam Bahasa Indonesia: Simposium Cendekia Kelas Dunia – SCKD)” selama tiga tahun berturut-turut (2017, 2018, dan 2019), diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik. Indonesia (RISTEKDIKTI)

2017                Penghargaan Poster Konferensi Terbaik pada Konferensi Eropa ke-31 tentang Solid-State Transducer (Eurosensors 2017), Paris, Prancis

2015                Penghargaan Hibah Perjalanan Transduser 2015 dari Yayasan Penelitian Transduser (TRF) pada Konferensi Internasional ke-18 tentang Sensor, Aktuator dan Sistem Mikro Solid-State (Transduser 2015) di Anchorage, Alaska, AS

2014                Walter Kertz Study Award (Penghargaan PhD Terbaik: Disertasi PhD Ilmiah Unggul di Antarmuka Fisika, Teknik Listrik, dan Teknologi Informasi) di Technische Universität Braunschweig, Braunschweig, Jerman

2013                Penghargaan Kertas Terbaik dari Dewan Nanoteknologi IEEE pada Konferensi Internasional IEEE ke-8 tentang Nano / Mikro Rekayasa dan Molekul#