Dr. Sutopo Purwo Nugroho, M.Si,APU

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Dedikasi untuk Ibu Pertiwi

Dia adalah pribadi yang puasa mengeluh dan pantang menyerah. Sekalipun keluar masuk rumah sakit karena kanker stadium akhir yang menggerogoti tubuhnya, Sutopo Purwo Nugroho terus aktif dan berjibaku memberikan perkembangan terakhir terkait penanggulangan bencana di tanah Air. Dia memilih terus produktif selama tubuh dan jiwanya masih diizinkan. Baginya, hidup bukan soal panjang pendeknya umur, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain.

 

Nama Sutopo Purwo Nugroho banyak dikutip media acap kali bencana terjadi. Posisinya sebagai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), membuat sosok 49 tahun ini menjadi sumber paling sahih dan yang paling layak sebagai sumber informasi oleh semua media.

Inilah yang membuat Sutopo harus bekerja keras memberikan informasi kepada setiap media dengan cepat, baik, dan akurat. Dia bertanggung jawab terhadap informasi kebencanaan di seluruh tanah air. Selama 24 jam setiap hari, 7 hari dalam sepekan, ada lebih dari seratus grup whatsapp  (WA) siaga bencana yang dia awasi setiap hari.

 

“Sebentar saja nggak buka WA, sudah 1.000 pesan yang belum terbaca,” katanya.

Seratus grup WA di telepon pintarnya adalah soal kebencanaan. Di antaranya, BPBD dari 33 provinsi, belum lagi puluhan satgas kebencanaan mulai banjir, longsor, gunung berapi, gempa, karhutla, tim SAR, hingga relawan. Tak ketinggalan grup media.

Laporan masuk real time ke telepon seluler (ponsel) Sutopo secara berkala setiap hari. Jika ada yang menonjol, kadang disertai foto dan video. Karena itulah ponsel milik Sutopo seringkali lemot dan cepat rusak meskipun dibekali dengan spesifikasi canggih dan paling anyar.

Tapi, saat ini bukan ponsel lemot yang dikhawatirkan pria kelahiran 7 Oktober 1969 tersebut. Pertengahan Januari 2018 lalu, Sutopo divonis menderita kanker paru-paru stadium 4.

Ceritanya, saat itu Gunung Agung berstatus awas. Sutopo yang bersiaga di Pusat Kendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB merasakan punggung kirinya nyeri ketika duduk. Khawatir akan kesehatan jantungnya, Sutopo lantas menuju RS Mitra Keluarga Cibubur untuk diperiksa. Hasilnya, jantungnya normal.

Dia lantas dirujuk ke bagian penyakit dalam (internis). Di situ terdiagnosis asam lambungnya naik. Sutopo lalu diberi obat pereda nyeri. Namun, saat obat habis, nyeri kembali lagi. Sutopo akhirnya berinisiatif  ke dokter spesialis paru-paru. Setelah pemeriksaan rontgen dan CT scan, dokter menyimpulkan bahwa Sutopo terserang kanker paru-paru stadium 4.

“Saat itu, keluarga saya langsung shock. Dan saya serasa di awang-awang. Tak percaya penyakit menakutkan ini bisa menimpa saya,” tuturnya.

Berharap keajaiban akan datang, sebagai second opinion atas hasil diagnosa yang menakutkan itu, Sutopo lantas berikhtiar melakukan pemeriksaan ulang di RS Mahkota Melaka, Malaysia. Selama sehari menjalani rangkaian pemeriksaan medis di negeri jiran itu, Sutopo memutuskan untuk berhenti sementara dan mengabaikan dulu WhatsApp di ponselnya. Dia pun hanya ditemani saudara dan staf  BNPB. Karena sang istri, Retno Utami Yuliangsih, tidak bisa mendampingi karena juga harus menjalani operasi jantung.

Alih-alih mendapatkan kabar melegakan, opini dari tim dokter Malaysia malah lebih menyeramkan. “Mereka bilang umur saya tinggal beberapa tahun. Kalau pakai kemoterapi pun paling nambah umur dua sampai tiga tahun,” tutur Sutopo.

Tim dokter menyarankan Sutopo segera menjalani kemoterapi esoknya. Dia pun setuju dan mengabarkannya kepada sang istri. Tapi, Retno meminta Sutopo tidak melakukan kemo di Malaysia.

“Biasanya, setelah kemo, akan mual dan muntah, juga lemas. Melaka jauh, perjalanan tiga jam darat dari Kuala Lumpur, kemo juga harus tiga minggu sekali. Apa Papa kuat?” kata Sutopo menirukan ucapan istrinya. Retno juga mewanti-wanti Sutopo agar menjalani perawatan di Jakarta saja karena ketiadaan yang menemani jika sampai dirawat di negeri jiran itu. Terlebih saat itu Retno juga tengah sakit. Kedua anaknya masih membutuhkan kehadiran mereka berdua.

Sutopo mengiyakan ucapan istri. Ia pun memutuskan kembali terbang ke Jakarta keesokan harinya dan melakukan semua proses pengobatan di tanah air. Tapi, menjelang malam, ratusan pesan dan panggilan menyerbu masuk ke ponselnya. Maklum, siang itu gempa besar berskala 5,2 skala Richter (SR) mengguncang Jakarta. Gempa yang terjadi Jumat siang 26 Januari 2018 itu berpusat di Banten.

Tak mau banyak membuang waktu, di atas ranjang rumah sakit, Sutopo mengumpulkan laporan dari BPBD Banten dan semua jaringan BNPB untuk diketik dalam sebuah pers rilis. Sampai Jumat malam, Sutopo masih setia memelototi ponsel. Menurut pengalamannya, setelah terjadi gempa besar, rawan bermunculan berita-berita hoax tentang tsunami. Dia merasa perlu berjaga jangan sampai masyarakat panik karena termakan informasi palsu. Beberapa saat kemudian, pers rilis pun telah tersebar ke semua media.

Sampai di tanah air, kesibukan Sutopo tak reda. Bahkan pada 5 Februari 2018, saat dirinya sedang menunggu dokter di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, debit air di Bendung Katulampa sudah menyentuh siaga merah.

Sutopo segera menyisir dunia maya dan televisi. Belum ada satu pun media yang mengabarkan hal tersebut. Memang ada beberapa info yang beredar. Tapi, bahasanya rumit, normatif. Sutopo berpikir masyarakat tidak paham apa artinya siaga satu dengan bahasa teknis seperti itu. Padahal, warga Jakarta terancam banjir.

Dia pun bergegas mengumpulkan semua informasi yang masuk di ponselnya, mengumpulkan data dan menyusun rilis. Sejurus kemudian, rilis berita sudah tersebar di grup WA para jurnalis dan pihak-pihak yang membutuhkan informasi tersebut.

Dua pekan berikutnya, tepatnya 22 Februari 2018, terjadi longsor di Pasir Panjang, Kecamatan Salem, Brebes. Saat itu Sutopo tengah juga berada di ruang bedah RSPAD Gatot Soebroto, bersiap menjalani operasi. Awalnya, dia berpikir nanti dululah, operasi lebih utama. Namun, belum ada satu pun berita tentang longsor Brebes tersiar. Sutopo menjadi resah. Dia tahu betul bencana longsor pasti mematikan. “Wah, ini longsor. Pasti banyak korbannya,” tuturnya.

Tak mau ambil risiko, lagi-lagi dalam kondisi berbaring di atas ranjang, dia mengontak BPBD dan beberapa instansi yang menangani langsung maupun petugas BNPB di lapangan. Data dia kumpulkan, lalu disusun dalam bentuk rilis dan disebarkan untuk media dan kelompok masyarakat yang membutuhkan.

Kejadian seperti ini terus berulang. Seperti ketika gempa mengguncang Lombok dan sekitarnya pada 29 Juli 2018 dan rangkaian gempa susulan yang mengguncang kawasan itu. Sutopo cekatan memberikan informasi terkini meskipun dirinya tengah terbaring di ranjang rumah sakit pasca dipungsi (pengambilan cairan di paru-paru) karena kanker yang dideritanya.

Pria kelahiran Boyolali ini lagi-lagi menunjukkan dedikasinya demi kejelasan informasi mengenai gempa Lombok. Melalui akun twitternya @sutopo_pn, pada Selasa 21 Agustus 2018. Dalam tiga foto yang diunggahnya, terlihat Sutopo tengah melakukan konferensi pers serta melayani permintaan wawancara awak media yang telah menunggunya.

Padahal, menurut keterangan yang ia tuliskan dalam unggahannya, Sutopo baru saja pulang dari rumah sakit usai melakukan kemoterapi. Alumni Universitas Gadjah Mada ini mengaku dirinya mengalami efek pasca kemoterapi, yakni kaki gemetar, mual, hingga ingin muntah. Meskipun demikian, Sutopo mengaku tetap tegar daripada harus pingsan dan disiarkan di televisi.

Juga saat lindu bermagnitudo 7,4 skala Richter mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat 28 september 2018, kegesitan Sutopo tak berkurang sedikit pun dalam memberikan informasi kebencanaan. Dia tak pernah mengeluh melayani permintaan informasi dari para pewarta dan menggelar konferensi pers.

Sutopo  Purwo Nugroho sangat aktif memperbarui informasi bencana maupun mitigasinya melalui media sosial Twitter dan Instagram pribadinya. Bahkan, Sutopo terkenal akurat dalam memberikan data dan perkembangan bencana beserta penangannya kepada publik. Tak jarang, ia juga meluruskan informasi hoax terkait gempa yang beredar di masyarakat.

Sutopo memang terkenal akrab dan bersahabat dengan wartawan. Sosok yang bekerja di BNPB sejak Agustus 2010 ini selalu jadi rujukan pertama wartawan jika ada kejadian bencana di Indonesia. Lewat akun Twitter-nya @Sutopo_PN, dia selalu mengabarkan perkembangan informasi terkait bencana.

Keluarga pernah menyarankan untuk berhenti saja dari pekerjaannya. Sutopo sempat mempertimbangkan usulan itu. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada gunanya juga diam. “Sakit, sehat, hidup, dan mati bagian dari kehidupan. Semua sudah diatur. Saya nikmati saja. Yang penting, saya ikhtiar,” ujarnya.

****

Sutopo Purwo Nugroho lahir di Boyolali, 7 Oktober 1969. Pendidikan dasarnya sejak SD hingga SMA ditamatkan di kampung halamannya.

Sutopo kecil menjalani pendidikan dasarnya dengan penuh keprihatinan. Ia bahkan mengaku saat SD harus pergi sekolah tanpa alas kaki. Ia juga pernah tinggal di rumah kontrakan dan mengkonsumsi peyek laron yang banyak di lingkungannya saat musim hujan.

Ia pun melanjutkan pendidikannya ke  Fakultas Geografi UGM. Selanjutnya menamatkan pendidikan S2 dan S3 di IPB Bogor.

Prestasi sudah diukirnya sejak mahasiswa. Lulus S1 dengan predikat cum laude dan tercepat. Menjadi mahasiswa teladan di Fakultas Geografi UGM dan meraih penghargaan dalam Lomba Karya Inovatif dan Produktif Tingkat Nasional selama dua tahun berturut-turut.

Mimpinya sebenarnya menjadi pengajar dosen di Fakulas Geografi UGM. Tetapi ternyata ladang pengabdian lain telah dipilihkan untuknya.  Ia akhirnya diterima bekerja di BPPT sebagai peneliti di UPT Hujan Buatan BPPT dan Teknologi Mitigasi Bencana BPPT. Saat itu Sutopo menjadi Peneliti Utama bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah dengan pangkat IIIa.

Karirnya di BNPB dimulai pada tahun 2010. Ia masuk dengan pangkat IVc sebagai Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB. Dan selanjutnya ditahun 2010 juga ia menjadi Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB. Disela-sela kesibukannya, Sutopo juga masih sempat membagi ilmu di sejumlah kampus seperti pascasarjana UI, IPB dan Universitas Pertahanan.

Selama berkarir di BNPB, Sutopo menjadi salah satu humas terbaik lembaga pemerintah. Ia begitu cepat dan jelas memberikan informasi. Bahkan dalam kondisi berbaring di ranjang rumah sakit, ia tak berhenti bekerja. Bahkan sesaat sebelum kemoterapi dilakukan, ia masih sempatkan untuk mengirim siaran berita tentang kondisi aktual kembencanaan yang terjadi di berbagai titik bencana. Ia tak ingin informasinya kalah cepat dengan berita hoax yang disebar di tengah-tengah duka masyarakat yang tertimpa bencana.

Berbagai penghargaan Kehumasan pernah diterimanya diantaranya Humas Terbaik Elshinta Award 2011, 2012 dan 2013. Ia juga menjadi Humas Terbaik Lembaga Publik Pilihan SPS 2013 dalam The Second Indonesia Public Relations Awards and Summit dari Serikat Pekerja Pers (SPS) pada tahun 2013.

Di tahun 2014, Kantor Berita Politik RMOL menganugerahinya penghargaan Golden Public Campaigner Award.  Dan di tahun 2017 ia menjadi Humas Terbaik atau Oustranding Spokeperson dari Asosiasi Media Asing di Indonesia.

Kini, di tengah perjuangannya melawan kanker, energinya tak pernah surut untuk tetap memberikan informasi berbaik dan terakurat mengenai kebencanaan. Sutopo sadar betul bahwa media sangat bergantung padanya dalam informasi kebencanaan. Informasi yang tepat dan akurat tidak hanya dibutuhkan media, tapi juga oleh pengambil kebijakan dan untuk untuk memastikan keselamatan masyarakat di lokasi bencana.

Meskipun sel-sel kanker sudah menyebar dari paru-paru ke tulang belakangnya, dan telah puluhan kali menjalani kemoterapi kemoterapi di RS Dharmais, Siloam, sampai RSPAD, Sutopo tampak tenang dan bahkan masih gemar melontarkan gurauan. Sutopo bertekad untuk tetap mengabdi BNPB selama hayat masih dikandung badan.

Sosok Sutopo telah menjadi inspirasi bangsa, bahkan telah menjadi energi bagi Indonesia. Dia tidak mau dikalahkan oleh derita penyakit kanker. Sutopo bercita-cita, kelak jika sembuh ia ingin menjadi motivator bagi para penyintas kanker yang masih bergelut dengan obat dan produktivitas.

Dia bertekad memanfaatkan sisa umurnya untuk bekerja lebih giat, beribadah lebih rajin, dan lebih banyak lagi berbuat kebaikan serta memberikan manfaat terhadap masyarakat luas. Menurutnya, hidup terlalu berharga jika harus terbuang sia-sia menghadapi kanker. Sutopo memilih terus produktif selama tubuh dan jiwanya masih diizinkan.

“Hidup bukan soal panjang pendeknya, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain,” tulisnya dalam akun media sosial. #

 

Riwayat Hidup

Nama                                       : Dr. Sutopo Purwo Nugroho, M.Si, APU

Tempat/Tanggal Lahir              : Boyolali pada 7 Oktober 1969

 

Riwayat Pendidikan :

  • 1977-1983 : SD Negeri I Boyolali
  • 1983-1986 : SMP Negeri I Boyolali
  • 1986-1989 : SMA Negeri I Boyolali
  • 1989-1994 : Sarjana Fakultas Geografi UGM Yogyakarta
  • 1998-2000 : Master Program Studi Pengelolaan DAS IPB Bogor
  • 2008-2010 : Doktor Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB Bogor

 

Riwayat Jabatan Fungsional Peneliti

  • Ajun Peneliti Muda IIIc, 01-09-2000, PAK 258,3
  • Peneliti Muda IVa, 01-09-2002, PAK 536,3
  • Ahli Peneliti Muda IVc, 01-09-2004, PAK 823,7; Keppres No. 64/M Tahun 2005
  • Peneliti Utama Ivd, 01-09-2008, PAK 950,2; Keppres No. 81/M Tahun 2009
  • Peneliti Utama Ive, 01-10-2010, PAK 1.1141,2

 

Riwayat Jabatan Struktural

  • 2009-2010 :Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana, Pusat Teknologi Pengelolaan Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana    BPPT
  • 2010 :Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB
  • 2010-sekarang : Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB #
Share This