
Edhy Surbakty memilih jalan sunyi sebagai pendamping UMKM, berkeliling hingga wilayah 3T demi memastikan program benar-benar berdampak sosial nyata.
TOKOHINSPIRATIF – Di tengah maraknya program pemberdayaan yang gemar memamerkan angka, nama Edhy Surbakty hadir dengan pendekatan yang berbeda. Ia bukan hanya berbicara tentang pertumbuhan usaha, tetapi juga tentang makna, keberlanjutan, dan dampak sosial yang benar-benar terasa di lapangan. Sebagai pendamping UMKM, Edhy memilih jalan sunyi: berkeliling Indonesia, masuk ke ruang-ruang yang kerap luput dari perhatian, termasuk wilayah 3T, untuk memastikan usaha kecil bertumbuh sesuai potensinya.
Pilihan hidup itu bukan kebetulan. Selepas menamatkan pendidikan MBA di University of Birmingham, Inggris, Edhy sebenarnya memiliki banyak opsi untuk berkarier di luar negeri atau di pusat-pusat ekonomi besar. Namun ia pulang ke Indonesia dengan satu keyakinan: UMKM adalah tulang punggung ekonomi, tetapi terlalu banyak di antaranya berjalan tanpa bekal pengetahuan bisnis dan akses yang memadai.
Keyakinan itu lahir dari pengalaman personal. Edhy tumbuh dari kalangan bawah dan memahami betul betapa sulitnya mengembangkan usaha tanpa mentor, jaringan, dan pemahaman manajemen yang tepat. Dari situ, ia memilih berbagi ilmu dan pengalaman—termasuk yang ia dapatkan dari bangku pendidikan di Inggris—agar pelaku UMKM tak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas dan sejahtera.

Ilustrasi: Suasana diskusi mengenai pengembangan UMKM. (Foto: bahasabisnis.id)
Melalui organisasinya, Bahasa Bisnis (bahasabisnis.id), Edhy merancang dan menjalankan berbagai program pendampingan yang tidak berhenti di ruang kelas atau kota besar. Ia justru sering hadir di daerah-daerah terpencil dengan keterbatasan infrastruktur dan akses pasar. Baginya, pengembangan UMKM tidak bisa diseragamkan; setiap daerah memiliki konteks, tantangan, dan potensi yang berbeda.
Pendekatan itu membuat Bahasa Bisnis kerap dipercaya berbagai lembaga untuk berdiskusi, menjadi narasumber, hingga berkolaborasi. PT PLN (Persero), Amman Mineral, Bank Indonesia, BRIN, Kementerian Pemuda dan Olahraga, hingga Kementerian UMKM adalah sebagian dari daftar mitra yang pernah bekerja sama. Kepercayaan itu tumbuh karena satu hal: Edhy tidak sekadar menjual program, melainkan menawarkan kerangka kerja yang terukur.
Di titik inilah Edhy dikenal sebagai spesialis pengembangan UMKM dan perancang program sosial yang berbasis pengukuran. Ia kerap mengingatkan bahwa banyak program terlihat baik di proposal, tetapi minim dampak sosial di lapangan. Melalui pendekatan seperti Social Return on Investment (SROI), Edhy mendorong organisasi untuk berani mengevaluasi: apakah sumber daya yang dikeluarkan benar-benar berbanding lurus dengan manfaat yang diterima masyarakat.

foto: https://bahasabisnis.id/
Prinsip itu juga tercermin dalam tulisan dan gagasan Edhy, salah satunya yang dapat dibaca di laman Bahasa Bisnis tentang bagaimana membedakan program yang berdampak dan tidak berdampak di tautan ini.
Di sana, ia menekankan pentingnya empati dalam pengukuran. Angka memang penting, tetapi tidak boleh menyingkirkan realitas di lapangan—misalnya ketika UMKM belum siap masuk pasar besar karena persoalan produksi, perizinan, atau kualitas produk.
Bagi Edhy, keberhasilan pendampingan bukan semata rasio dan grafik, melainkan perubahan nyata dalam kehidupan pelaku usaha. Karena itu, ia memilih mendahulukan kesiapan UMKM, meski secara kuantitatif hasilnya tidak selalu “indah” di laporan. Pendekatan ini justru menjaga keberlanjutan usaha dan martabat para beneficiaries.
Di luar aktivitas lapangan, Edhy juga aktif berbagi melalui media sosial @surbaktysharing. Di sana, ia membagikan refleksi, tips praktis bagi pengusaha pemula, serta potongan pembelajaran dari perjalanan panjang mendampingi UMKM. Gayanya lugas, jujur, dan membumi—jauh dari jargon yang sering terdengar hampa.
Pada akhirnya, perjalanan Edhy Surbakty adalah pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak cukup dengan niat baik dan program yang ramai. Dibutuhkan kesabaran, empati, dan keberanian untuk mengukur diri sendiri. Dalam dunia yang gemar mengklaim keberhasilan, Edhy memilih bertanya lebih dulu: apakah yang dilakukan benar-benar berdampak? Dan dari sanalah perubahan dimulai.***