Selama hampir 40 tahun, Ibrahim setia menjaga hutan Leuser. Bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan hidup untuk melestarikan paru-paru terakhir Sumatra.

TOKOHINSPIRATIF – Di antara kabut pagi yang menggantung di Stasiun Penelitian Soraya, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, sosok lelaki berusia 62 tahun berjalan perlahan menembus rimba. Setiap langkahnya disertai lirih gumaman nama-nama latin tumbuhan, seperti doa yang dipanjatkan kepada hutan. Dialah Ibrahim, staf lapangan Stasiun Penelitian Soraya di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, yang telah mendedikasikan lebih dari empat dekade hidupnya menjaga “paru-paru terakhir” Sumatra.

Sejak 1986, Ibrahim menapaki hidup di tengah hutan. Ia bukan sarjana kehutanan, melainkan pembelajar alam sejati. Lahir di Kutacane, Aceh Tenggara, ia belajar langsung dari para senior yang lebih dulu meneliti Leuser. “Saya belajar dari mereka yang sudah di hutan sejak 1970-an,” tuturnya. “Waktu itu saya ikut proyek penelitian siamang gibbon dengan peneliti dari California.”

Setelah proyek itu usai, Ibrahim terus melanjutkan kiprahnya bersama berbagai lembaga seperti WCI dan WWF, hingga kini menjadi staf lapangan Forum Konservasi Leuser (FKL). Ia mendampingi para peneliti dan mahasiswa dari dalam maupun luar negeri yang datang meneliti flora dan fauna Leuser.

Hutan Adalah Rumah Kedua

Bagi Ibrahim, hutan bukan sekadar tempat bekerja, tetapi rumah kedua. Ia pernah tinggal di tengah hutan selama tiga bulan tanpa turun sama sekali. “Logistik di-drop dari luar. Kadang sungai banjir, jadi kami harus tidur di atas batang kayu,” ujarnya tersenyum mengenang masa-masa sulit.

Dalam kondisi terdesak, ia pernah memasak menggunakan air dari kantong semar yang disaring dengan kaus sepatu baru. “Airnya dikumpulkan sedikit-sedikit. Begitulah cara bertahan hidup di hutan,” katanya ringan. Semua lelah terbayar setiap kali ia mencapai puncak bukit dan memandang hamparan hijau Leuser. “Rasanya seperti melihat surga,” ucapnya lirih.

Empat puluh tahun di rimba membuat Ibrahim akrab dengan satwa liar. Ia pernah berhadapan langsung dengan gajah, harimau, hingga badak. Namun, rasa takut tak membuatnya mundur. “Kalau di hutan, jangan ribut. Hormati suara alam. Kita cuma tamu,” ujarnya bijak.

Ibrahim, staf lapangan Stasiun Penelitian Soraya Taman Nasional Gunung Leuser

Warisan Cinta untuk Alam

Kecintaan Ibrahim pada alam menurun pada anak-anaknya. Dari enam putra, tiga di antaranya kini bekerja di bidang konservasi. “Saya tidak pernah memaksa. Mungkin karena mereka lihat bapaknya di hutan terus, jadi ikut mencintai alam,” katanya.

Dukungan istrinya menjadi sumber kekuatan selama puluhan tahun mengabdi di hutan. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati. “Kalau bukan kita yang menjaga hutan, siapa lagi?” ucapnya tegas.

Menjaga Keseimbangan Alam

 

Meski bersahabat dengan hutan, Ibrahim tak menutup mata terhadap ancaman perambahan dan perburuan satwa liar. Ia mengaku sedih melihat rusaknya ekosistem Leuser akibat ulah manusia. “Kalau burung hilang, serangga makin banyak. Kalau harimau hilang, babi hutan merusak ladang warga,” jelasnya.

Menurutnya, hutan memiliki keseimbangan yang saling terkait. “Kalau satu bagian rusak, semuanya ikut terganggu,” katanya. Karena itu, ia selalu mengingatkan generasi muda untuk mencintai alam sebagaimana mencintai diri sendiri. “Kalau kita menjaga satu pohon, pohon itu juga akan menjaga kita,” pesannya penuh makna.

Kini, di usia senjanya, Ibrahim masih setia menyusuri jalur hutan Soraya setiap pagi. Dengan langkah tenang dan mata tajam, ia mengenali setiap daun dan setiap suara burung di kejauhan. Bagi sebagian orang, hutan mungkin tempat berbahaya. Tapi bagi Ibrahim, hutan adalah sahabat lama — tempat ia belajar tentang kesetiaan, kehidupan, dan cinta yang tak lekang waktu.***

Foto: AJNN/Irfan Habibi