Dengan angin dan surya, Noer Chanief menyalakan jalan-jalan gelap di pelosok Blora, menghadirkan harapan baru bagi desa-desa yang lama hidup dalam keterbatasan.

TOKOHINSPIRATIF – Ketika malam turun di pelosok Blora, gelap kerap datang terlalu cepat. Banyak desa berada di tengah hutan, jauh dari jangkauan listrik PLN. Jalan desa pun sering dibiarkan tanpa penerangan. Di sela keterbatasan inilah, Noer Chanief hadir membawa cahaya. Ia tak hanya memasang lampu, tetapi menyalakan harapan yang bertahan di tengah angin dan terik matahari.

Sejak 2015, pria berusia 60 tahun itu merancang teknologi pembangkit energi terbarukan hibrida bernama Omset Pintar—Omah Setrum Pintar. Sistem ini menggabungkan kekuatan angin dan matahari untuk menghasilkan listrik yang stabil. Kincir angin bekerja saat malam dan angin kencang, panel surya mengisi tenaga saat siang. Keduanya berpadu menyuplai cahaya di titik-titik desa yang lama gelap.

Beberapa desa di Kecamatan Ngawen sudah merasakannya. Sukorejo, Tutup, Kalisangku, dan sejumlah desa lain menjadi lokasi awal pemasangan. Total sekitar sepuluh desa kini menikmati terang dari Omset Pintar. Cahaya itu sederhana. Namun, bagi warga yang tinggal jauh dari aliran PLN, lampu di tepi jalan adalah tanda bahwa desa tak lagi tertinggal.

Teknologi ini kemudian meluas. Sejak 2017, Omset Pintar juga hadir di sejumlah lokasi wisata di Blora. Banyak titik wisata berada jauh dari jaringan listrik, dan sistem hibrida ini menjadi solusi yang terjangkau. Dari satu titik ke titik lain, cahaya kecil itu perlahan menyalakan perhatian publik.

Perjalanannya tak berhenti di desa. Pada 2018, BRIN mengundang Chanief untuk mempresentasikan inovasinya. Tahun itu ia memproduksi 10 unit. Setahun berikutnya, 16 unit tambahan terpasang. Setelah itu, masyarakat dari berbagai daerah mulai memesan sendiri. Sebagian membeli. Sebagian lagi meniru. Dan Chanief tak pernah melarang.

Sejak awal, ia memang merancang Omset Pintar agar bisa dirakit siapa saja. Tak perlu teknologi rumit. Tak perlu material mahal. Dalam satu paket, terdapat satu kincir angin dan 20 tiang lampu. Biayanya berada di kisaran Rp40–45 juta, tergantung kondisi lokasi. Ia tidak mematenkan teknologi ini. Ia justru ingin desa-desa lain dapat mempelajarinya dan memproduksinya sendiri.

Hingga kini, pemanfaatannya masih dominan untuk penerangan jalan. Namun, beberapa rencana perluasan sudah muncul. Di Garut, lima rumah bersiap menjadi proyek percontohan pemanfaatan energi angin-surya skala rumah tangga.

Yang menarik, Chanief bukan lulusan teknik elektro. Ia adalah pensiunan guru SMK Negeri 1 Blora, dari jurusan teknik kendaraan ringan. Namun, ketertarikannya pada mekanik dan energi membawanya pada jalur yang tak biasa. Ia belajar banyak hal secara otodidak. Membongkar. Merakit. Mencoba lagi. Berulang-ulang. Dari ketekunan itu, lahirlah teknologi yang kini menyalakan banyak desa.

Total sudah ada 57 kincir Omset Pintar tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Angka itu mungkin kecil dibanding kebutuhan listrik nasional, namun setiap unit berarti satu wilayah kecil yang berubah. Satu dusun yang lebih aman. Satu jalan setapak yang lebih terang. Satu tempat wisata yang lebih hidup.

Setelah pensiun pada 1 Mei 2025, mobilitas Chanief semakin luas. Ia bisa bepergian lebih jauh untuk melatih warga, menyiapkan generasi baru, dan memperluas jangkauan inovasi. Ia menggandeng siswa-siswa SMK untuk belajar langsung. Mereka ikut merakit. Mengukur. Mencatat. Memasang. Ia ingin anak-anak muda melihat bahwa energi terbarukan tidak sesulit yang dibayangkan.

“Generator pun bisa kita rakit dengan biaya murah,” katanya suatu kali. Dengan ketekunan, satu unit Omset Pintar bisa selesai dalam tiga minggu hingga satu bulan.

Penghargaan nasional datang pada 2020. Presiden Joko Widodo, melalui BRIN, menyerahkan penghargaan inovator kepada Chanief. Pada tahun yang sama, ia membimbing tiga siswa menciptakan Dakasyagi, sepeda bekas yang diubah menjadi sumber energi melalui motor dinamo. Ketika dikayuh, sepeda itu menghasilkan listrik.

Namun, penghargaan bukan yang membuat Chanief terus berjalan. Bagi dirinya, cahaya di ujung jalan desa jauh lebih penting. Di sana, ada anak-anak yang kini bisa pulang dengan aman. Ada warga yang bisa berkumpul tanpa takut gelap. Ada rasa percaya diri bahwa desa kecil pun bisa berdiri dengan energi bersih.

Di tengah dorongan besar menuju energi terbarukan, cerita Chanief adalah pengingat sederhana: inovasi tak selalu lahir dari laboratorium mahal. Kadang justru tumbuh dari garasi kecil, dari tangan yang sabar, dan dari keinginan untuk menyalakan kehidupan orang lain.

Dan dari Blora, cahaya itu terus menyebar. Pelan. Tenang. Tapi pasti, seperti angin yang memutar baling-baling di atas tiang-tiang desa.***