Hawuko, Inovasi Kompor Sampah Penghasil Listrik

Ujang Koswara membuat inovasi kompor unik. Alat pemasak yang dinamakan Hawuko, singkatan dari hawu (tungku) Ujang Koswara tersebut berbahan bakar sampah kering. Panas kompor pun diubahnya menjadi energi listrik berdaya lima watt.

Selintas kompor ini tak berbeda dengan kompor konvensional. Tapi jika diperhatikan lebih seksama, ada satu keistimewaan. Tidak seperti kompor yang memakai gas dan minyak tanah, kompor bernama Hawuko ini menggunakan sampah sebagai bahan bakar.

Ujang Koswara, 51 tahun, pencipta Hawuko, mengatakan sampah untuk bahan bakar bisa jenis apa saja, kecuali sampah basah dan plastik.

“Sampah basah, misalnya nasi basah, itu mah nggak usah dibakar, bikin pupuk cair aja, bisa. Plastik nggak usah dibakar, dijual juga laku. Untuk bahan bakar, pakai daun kering, kertas, kardus, bekas-bekas ranting, apapun, masukin ke sini, dibakar,” kata Ujang yang mulai menyebarkan cara merakit Hawuko sejak 2017.

Daya tahan api, menurut Ujang, tergantung dari berapa banyak sampah yang dimasukkan dalam tungku. Jika tungku diisi sampah hingga penuh, api akan tahan kurang lebih tiga jam.

Durasi nyala api akan lebih panjang, apabila tungku kembali diisi sampah. Hasil pembakaran pun tidak meninggalkan residu akibat proses pembakaran.

“Apapun jenis sampahnya, kan biasanya ada residu, ini mah nggak ada. Awet sekali (apinya). Kalau sampah dimasukkan ke sini, ini sangat awet. Sampahnya, sampah apa saja. Kalau di kota mah, sampah kering biasa, kalau di desa mah ada batok kelapa, serabut kelapa. Jadi tidak usah nebang pohon,” papar Ujang.

Keunggulan lainnya, Hawuko bisa menghantarkan listrik sebesar lima watt, cukup untuk menyalakan bohlam dan mengecas telepon seluler.

“Sambil masak bisa ngecas HP-nya dari sini,” cetusnya.

Hawuko berwujud seperti kompor biasa yang berbentuk tabung. Terdapat beberapa lubang besar di bagian bawah kompor dan lubang dengan ukuran lebih kecil di bagian atas dan dalam kompor. Tujuannya untuk memasok oksigen, gas yang dibutuhkan dalam proses pembakaran.

Di bagian dalam kompor ada wadah yang berfungsi sebagai tungku. Di wadah itulah, proses pembakaran sampah, sebagai bahan bakar, terjadi. Bagian atas kompor dilengkapi dudukan tempat meletakkan alat memasak.

Hawuko menghasilkan api yang cukup besar lantaran sirkulasi udara yang terjaga dengan baik. Panasnya mampu mendidihkan air di sebuah teko dalam waktu lima hingga 10 menit.

Hawuko juga dilengkapi dengan tuas pengatur besaran api. Tuas tinggal digeser ke kiri dan kanan untuk mengecilkan atau membesarkan nyala api, termasuk mematikan kompor. Tuas itu berfungsi membuka dan menutup saringan udara yang berada di bawah tungku. Apabila saringan udara tertutup, maka pasokan udara akan terhenti dan otomatis mematikan api.

Ketika kompor menyala, arus listrik akan otomatis mengalir. Listrik dihasilkan oleh generator yang terpasang di badan Hawuko. Generator yang bisa dilepas pasang itu mengubah energi panas dari api menjadi listrik.

Di dalam generator terdapat sejumlah komponen elektronik, yakni kipas, plat pendingin, stabilizer, panel termoelektrik dengan kabel positif dan negatif, konektor USB, dan dua batang tembaga yang terpasang di bagian kiri kanan peranti, layaknya sepasang kaki.

Plat tembaga akan tersambung ke tungku tempat api menyala yang kemudian mengantarkan panas ke panel termoelektrik. Sementara sisi yang lain didinginkan oleh pendingin dan putaran kipas.

Jika satu sisi panel panas dan sisi lainnya dingin, maka energi listrik akan dihasilkan. Arus listrik akan distabilkan oleh stabilizer sebelum dialirkan melalui kabel yang tersambung ke konektor USB.

Dari situlah, energi listrik yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk menyalakan lampu¸ mengisi baterai telepon seluler, atau power bank. Listrik juga digunakan untuk memutar kipas yang menjaga sisi panel termoelektrik tetap dingin.

Membuat Hawuko, menurut Ujang, tak butuh biaya besar. Hanya dengan merogoh kocek kurang dari Rp500.000, Hawuko sudah bisa dibikin. Tabung kompor bisa memakai kaleng bekas cat atau biskuit.

Adapun komponen elektroniknya bisa didapat di toko peralatan elektronik atau toko online. Panel termoelektrik juga banyak dijual sebagai suku cadang dispenser atau biasa disebut Peltier.

Proses perubahan energi panas ke listrik di kompor Hawuko, menurut Pakar Konversi Energi dari Institut Teknologi Bandung, Pandji Prawisudha, terjadi karena efek Seebeck, yakni fenomena yang mengubah perbedaan temperatur menjadi energi listrik.

Pandji mengapresiasi karya Ujang yang menurutnya wujud dari teknologi tepat guna. Hawuko, kata Pandji, cocok digunakan di Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya masih menggunakan tungku sebagai alat memasak.

“Kalau lagi darurat bencana, kita nggak bisa dapat LPG, nggak bisa dapat minyak tanah dan lain-lain, ya masaknya pakai hawu (tungku). Kalau itu menghasilkan listrik, sangat bagus sekali. Artinya, sambil masak, bisa sambil nyalain lampu, atau ditaruh di aki untuk nyalain lampu di malam hari. Itu teknologi tepat guna. Dari sisi kemanfaatan kelihatan potensinya besar,” kata doktor lulusan Enviromental Science and Technology Tokyo Institute of Technology ini.

Selain untuk daerah darurat bencana, kompor Hawuko dinilai tepat dipakai untuk masyarakat miskin. Karena itu, Ujang gencar mendistribusikan Hawuko dengan cara melatih warga membuat sendiri kompor tersebut.

Dengan begitu, warga bisa mendapat keterampilan sekaligus merasakan manfaat dari Hawuko yang namanya merupakan akronim hawu (tungku dalam bahasa Sunda) dan Ujang Koswara.#