‘Ibu Inspirasi’, Menyalurkan Teknologi Ramah Lingkungan ke Pelosok Negeri. 

Kopernik, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berpusat di Ubud, Bali, membuat program 'Ibu Inspirasi'. Program itu mengajak para ibu rumah tangga untuk mengenal teknologi ramah lingkungan.

Sejak lima tahun terakhir, Anna Nurhayati menggunakan alat penyaring air untuk air minumnya. Warga Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu mengaku bisa lebih hemat dalam pengeluaran setelah menggunakan alat tersebut.

Sebelum memakai penyaring air minum, ibu dari satu anak itu membeli air mineral galon. Tiga hari sekali, ia membeli segalon air minum seharga Rp 15.000. Dalam sebulan, dia menghabiskan Rp 150.000.  Dengan alat penyaring air itu, sekarang dia tidak perlu beli air galon lagi. 

Terinsipirasi dari penghematan yang dilakukan, Anna kemudian mengajak ibu-ibu lain di desanya dan desa-desa tetangga untuk memakai filter air minum. Ada tiga alasan untuk meyakinkan bahwa filter air itu lebih baik, yakni higienis, ekonomis, dan praktis.

Menurut Anna, filter air yang dibeli seharga Rp 165.000 itu memiliki alat penyaring sehingga air minum lebih sehat dibanding air mineral bermerek. Alat itu juga praktis karena bisa menggunakan air tanah, air hujan, atau bahkan air sungai, asal bersih.

Di Desa Waiwejak, Pulau Lenbata, Nusa Tenggara Timur, Elisabeth Nogo Keraf, menggunakan lampu tenaga surya sejak Maret 2015. Semula, dia memakai petromak atau lentera pada malam hari karena belum ada listrik di desanya.

Dengan lampu tenaga surya, Mama Elis, begitu dia biasa disapa, bisa hemat energi dan ramah lingkungan. Anak-anak di desanya tak lagi belajar di bawah cahaya lampu minyak tanah. Cukup memakai lampu seharga Rp200.000 dengan kekuatan hingga 8 jam, rumahnya pada malam hari menjadi terang benderang.

Mama Elis juga mengajak ibu-ibu lain di desanya dan desa-desa tetangganya untuk menggunakan lampu sejenis. Selain aman karena tak takut lagi kebakaran, juga lebih hemat karena tidak perlu membeli minyak tanah.

Anna dan Mama Elis hanyalah dua dari 400 lebih ibu rumah tangga yang tak hanya memakai produk-produk ramah lingkungan, tapi juga mempromosikan dan menjualnya.Mereka bergabung sebagai anggota ‘Ibu Inspirasi’ bersama perempuan lima provinsi: Aceh, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

“Ibu Inspirasi” ialah program Yayasan Kopernik, organisasi penyedia teknologi ramah lingkungan yang berkantor di Ubud, Gianyar, Bali. Dari sini, Kopernik menyebarkan berbagai teknologi ramah lingkungan terutama ke daerah-daerah terpencil.

Pendiri Kopernik adalah pasangan suami-istri, Ewa Wojkowska dan Toshi Nakamura. Sejak awal, Kopernik memang bertujuan menyediakan teknologi ramah lingkungan khususnya bagi warga kurang mampu di daerah terpencil.

Ewa, perempuan berkewarganegaraan Polandia memilih Kopernik sebagai nama yayasan karena terinspirasi Nikolaus Kopernikus, ilmuwan terkenal Polandia yang menemukan teori bahwa bumi itu bulat. “Seperti Kopernikus, kami ingin mengubah cara pandang orang terhadap teknologi,” kata Ewa.

Untuk mengubah cara pandang itu, Kopernik bekerja melalui tiga cara. Pertama, mencari teknologi murah dan ramah lingkungan, mengenalkan, lalu mengkaji ulang dampak penggunaannya. Kedua, mereka membiayai pengiriman produk ke lokasi-lokasi terpencil. Warga bisa membeli secara tunai ataupun kredit. Ketiga, membayar ke produsen teknologi dan memberi umpan balik terkait dampak penggunaan teknologi tersebut.

Sebagian besar produk yang dijual Kopernik bukan buatan mereka sendiri. Mereka membelinya dari pihak lain, seperti penyaring air dari Bandung, lampu tenaga surya dari China, pengolah produk pertanian dari Malang, dan lainnya.

Saat berdiri enam tahun silam, Kopernik lebih banyak menjual kompor dan lampu. Kompor ramah lingkungan menggunakan bahan bakar padat, seperti kayu, arang, dan batu bara. Menurut Ewa, kompor ini bisa menghemat bahan bakar hingga 80 persen.

Karena sebagian besar produk yang dijual adalah alat-alat rumah tangga, Kopernik pun mengajak ibu-ibu sebagai “agen penjualan”. Perempuan, kata Ewa, sangat efektif sebagai agen untuk mengenalkan teknologi bersih dan murah.  “Dengan menjadi Ibu Inspirasi, mereka bisa meningkatkan pendapatan sekaligus kepercayaan diri.”

Program Manager Kopernik, Nonie Kaban bercerita, program Inspirasi Ibu telah dimulai sejak 2010 di Aceh, Tuban, dan Bojonegoro. Kemudian dilanjutkan pada 2011 untuk wilayah Indonesia Timur, tepatnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu Kupang, Sumba, Flores, dan Lembata. Sedangkan di Nusa Tenggara Barat (NTB) ada di Lombok Timur. Kini sejumlah 407 Ibu Inspirasi telah dicetak Kopernik.

Lebih lanjut Nonie menjelaskan, lewat ‘Ibu Inspirasi’, ibu-ibu yang tinggal di pedalaman dan daerah terpencil yang diberdayakan.

“Kami melaksanakan program di daerah terpencil karena alat-alat seperti saringan air, kompor bio massa, dan lampu tenaga surya, adalah teknologi ramah lingkungan yang dibutuhkan oleh masyarakat-masyarakat terpencil. Mereka tidak mempunyai akses ke sarana air bersih atau listrik.”

Dengan menyediakan akses teknologi ramah lingkungan melalui perempuan akan membuat penetrasinya lebih cepat. Ibu tahu apa yang mereka perlukan. Mereka dengan lebih mudah untuk menceritakannya ke sesama tetangga bahwa mereka mempunyai teknologi yang bagus untuk kesehatan sekaligus berhemat.

Bagi Kopernik, makin banyak teknologi yang terdistribusikan ke masyarakat, maka dampaknya makin besar. Misalnya, penggunaan lampu dengan minyak tanah yang berbahaya bagi kesehatan akan semakin berkurang.

Dalam Laporan Tahunan 2015, Kopernik menyatakan 7.594 orang di daerah miskin Indonesia kini bisa menikmati hidup lebih baik dengan teknologi yang disediakan Kopernik. Tahun itu mereka mendistribusikan 27.197 teknologi meliputi lampu tenaga surya, perangkat listrik rumah, filter air, kompor, peralatan melahirkan, dan permainan.

Dari modal awal sebesar $100.000, pada tahun 2015 mereka mengelola dana hingga $2.709.363 yang diperoleh dari donasi dan hibah $1.597.067 serta penjualan maupun konsultansi sebesar $1.112.296.

Dengan keberhasilan itu, Kopernik dan anggota Ibu Inspirasi mendapat penghargaan internasional, termasuk Zayed Future Energy Prize for the Non-Profit Organisation 2016. Mereka juga diundang di forum-forum internasional seperti di PBB dan World Economy Forum.

Noni yakin model usaha mikro social energy merupakan cara yang efektif dalam meningkatkan standar hidup masyarakat di wilayah terpencil. “Kami ingin melihat perubahan perempuan untuk tidak lagi sebagai korban kemiskinan, khususnya kemiskinan energi. Kami ingin perempuan sebagai pemeran penting dalam upaya pemerataan akses energi di Indonesia,” tutupnya.

Share This