Inovasi Mikroba untuk Produktivitas Lahan Gambut

Inovasi biopeat pine ini diharapkan mampu memberi kesuburan lahan gambut dengan menambah tingkat keasaman atau kadar pH, menggantikan budaya membakar yang menghasilkan abu.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan hebat yang melanda sebagian Sumatera dan Kalimantan pada 2015 menimbulkan banyak kerugian. Aktivitas perekonomian lumpuh, masyarakat banyak yang terserang penyakit pernafasan, sekolah diliburkan serta berbagai dampak kerugian lainnya. Sebagai salah satu solusi, Pemerintah mengambil kebijakan larangan bakar untuk kegiatan pembukaan lahan.

Kebijakan tersebut menimbulkan pro dan kontra. Sudah menjadi budaya turun-temurun, warga di di sekitar hutan terbiasa membuka lahan dengan cara membakar lahan. Di sisi lain, perusahaan perkebunan memilih membakar lahan gambut untuk mengeruk keuntungan. Tak salah, membakar gambut memang menjadi cara paling ekonomis agar lahan bisa ditanami ketimbang cara lain. Namun, cara tersebut menimbulkan kerugian luar biasa.

Adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuat inovasi penyubur lahan gambut dari mikroba. Dengan cara ini, tidak perlu lagi membakar gambut.

Direktur Pusat Teknologi Bio Industri BPPT Asep Riswoko, mengatakan mikroba berupa fungsi yang dikembangkan dengan limbah nanas menjadi biopeat pine punya kemampuan mengurangi keasaman tanah. Hasil rekayasa bioteknologi ini juga membantu mikroba bertahan hidup dan bisa memenuhi kebutuhan ph tanah untuk pertanian dan perkebunan sehingga mikroba memiliki kemampuan mengolah lahan gambut secara alami tanpa perlu pembakaran lahan gambut, lanjutnya.
Sebagaimana diketahui, dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 2015 tentang Perkebunan, disebutkan setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka, dan atau mengolah lahan dengan cara membakar. Ini menjadi salah satu alasan dikembangkannya biopeat tersebut, sehingga jadi solusi untuk kebijakan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Sebelumnya, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Eniya Listiani Dewi mengatakan inovasi biopeat pine ini diharapkan mampu memberi kesuburan lahan gambut dengan menambah tingkat keasaman atau kadar pH, menggantikan budaya membakar yang menghasilkan abu.

“Stop bakar lahan, biopeat pine ini mampu memberi kesuburan lahan gambut dengan menambah tingkat keasaman atau kadar pH, menggantikan budaya membakar yang hasilkan abu,” kata Eniya.

Menurut Eniya, luas lahan gambut seperti di Riau yang mencapai 4,3 juta hektare (ha), tentu perlu diberikan solusi pupuk hayati agar mengubah budaya petani yang membakar lahan sebelum menanami lahan.

Dari data setempat, total penyebaran gambut di Provinsi Riau mencapai luasan 4.360.740 ha dan Indragiri Hilir merupakan Kabupaten dengan luasan gambut terbesar, yaitu sekitar 998.610 ha. Tentunya, menurut dia, areal gambut yang sangat luas ini perlu dikelola dan diolah dengan cara yang baik dan benar agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.

BPPT melakukan kemitraan dengan sebuah perusahaan perkebunan di Riau untuk kaji terap Teknologi BioPeat dan membangun Laboratorium dan Pusat Informasi Teknologi BioPeat (LPITB). Menurut dia, ini merupakan langkah nyata peran BPPT dalam memberikan solusi dan akses kepada industri untuk memanfaatkan Sumber daya dan hasil rekayasa teknologi yang ada di BPPT.

“Teknologi BioPeat tersebut dapat menjadi solusi bagi pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian tanpa pembakaran. Bersama mitra kerja kami, biopeat pine sudah diterapkan di lahan percobaan seluas empat hektare. Kita sudah buktikan bisa panen buah naga, mangga dan sato imo di lahan gambut,” ujar Eniya.

Dengan teknologi BioPeat, ke depan BPPT bersama Badan Restorasi Gambut (BRG), Pemprov Riau, Pemkab Indragiri Hilir dan Universitas Riau akan bekerja sama dan bersinergi untuk mewujudkan “Desa Peduli Gambut Sejahtera”.#

 

Alhasil sebelum dirangkai menjadi baterai, sari tomat ditambahkan biopolimer berupa agarose untuk menjadi elektrolit berbentuk gel. Penambahan agarose mampu meningkatkan densitas atau kerapatan elektrolit.

“Rapatnya elektrolit membuat nilai tegangan listik menjadi tinggi,” ujar mahasiswa pascasarjana ITS asal Surabaya itu.

Febrilia Agar Pramesti, ketua kelompok penelitian tersebut, mengatakan, tegangan listrik yang dihasilkan dan diperoleh yakni 1 volt dengan memberikan perlakuan melalui perbandingan volume sari tomat dan agarose encer sebesar 1:2. Sedangkan untuk agarose encer sendiri dibuat dengan melarutkan biopolimer agarose ke dalam air dengan perbandingan volume 1:3.

“Nilai tegangan 1 volt yang dihasilkan itu hanya dalam skala kecil. Bisa jadi jika dilakukan scale up atau pembesaran skala volume, tegangan listrik pada baterai gel ini akan lebih besar,” katanya.

Baterai gel dari buah tomat ini juga dinilai tim mampu menghasilkan tegangan dan arus yang sangat stabil.

“Kami menjalankan baterai selama 30 menit, tegangannya menjadi 0,985 volt, hanya selisih 0,015 volt saja, selisih ini sangat sulit diperoleh pada penelitian baterai umumnya,” ujar Febri.

Melalui inovasi ini tim berharap baterai gel dari buah tomat bisa digunakan oleh masyarakat sebagai baterai yang ramah lingkungan. Mereka juga berharap karya mereka mampu mengantarkan timnya untuk lolos bertarung di ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-31 yang bakal digelar pada Agustus mendatang di Yogyakarta.#

Share This