Juhariyah

Kepala Sekolah Yang-Eyang, Jember, Jawa Timur

Semangat Berbagi di Usia Senja

Usianya yang beranjak senja tak melunturkan semangatnya untuk berbagi ilmu. Bersama Sekolah Yang-Eyang, Juhariyah giat menularkan cara hidup sehat di usia senja, hingga teknik membimbing anak-anak zaman now di kampungnya yang kebanyakan ditinggal merantau para orangtua sebagai buruh migran.  Sudah menjadi rahasia umum kalau nenek dan kakek biasanya terlihat lebih sayang kepada cucu dibanding anaknya sendiri. Itulah sebabnya anak-anak betah berada di rumah bersama nenek dan kakeknya. Namun kedekatan ini bila tidak diimbangi dengan pengetahuan yang baik tentang cara mengasuh anak, bisa berdampak buruk bagi cucu-cucnya. Terlebih di era sekarang, teknologi informasi berkembang pesat dan anak anak zaman now begitu gesit mengimbanginya. Itulah salah satu alasan didirikannya Sekolah Yang-Eyang di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sekolah Yang-Eyang hadir atas semangat bersama untuk menjadi lansia yang berkualitas dan menciptakan generasi emas. Bila sebelumnya di Ledokombo sudah ada mother School dan father school. Sekarang bertambah lagi Grandmother School atau Sekolah Yang-Eyang ‘segar’, kepanjangan dari sehat bugar.  
Adalah Juhariyah, 63 tahun, sosok eyang tangguh yang selalu bersemangat mengajak dan memotivasi para manula di kampungnya untuk tetap bergiat di usia senja. Bersama sekolah Yang-Eyang, pensiunan guru sekolah dasar ini rela menghabiskan waktunya untuk merancang kurikulum dan berbagai kegiatan kreatif agar para ‘siswa’ sekolah Yang Eyang tetap betah dan kerasan berkumpul dengan para eyang lain di sana. Kepada tokohinspiratif.id, Juhariyah menceritakan sejarah berdirinya sekolah Yang Eyang yang kini dipimpinya. Sekolah Yang-Eyang merupakan buah kerjasama antara Karang Werda Bungur Desa Sumber Lesung Kecamatan Ledokombo dengan Komunitas Tanoker. Saat itu, Karang Werdha Bungur adalah satu-satunya wadah bagi para lansia untuk berkumpul. Kemudian, lahir kelompok pengajian Khoirun Nisa untuk meningkatkan kualitas spiritual para eyang. Seiring berjalannya waktu, melihat banyak anak-anak yang ditipkan pengasuhannya kepada para eyang, Juhariyah menganggap penting untuk membekali para eyang dengan cara pengasuhan anak yang baik. Terlebih, perkembangan informasi teknologi yang begitu cepat, pengaruh gadget, serta pergaulan bebas dan bahaya penyalahgunaan narkoba, kian menghantui kehidupan anak-anak jaman sekarang. Karena itulah Sekolah Yang-Eyang ini didirikan. “Kami ini generasi kuno, sedangkan cucu kami sudah generasi milenial,” ucap nenek yang terampil membuat video blog (vlog) dan aktif di sosmed ini. Prilaku anak-anak, lanjut Juhariyah, bisa saja dihadapan eyangnya bersikap manis, tapi akan beda ketika sudah di luar rumah. Karena itulah selain mengajarkan menu sehat dan cara mengasuh anak zaman now, Sekolah Yang-Eyang juga membuat sistem pengasuhan bersama kepada cucu-cucu mereka. Juhariyah merasa kegiatan pengasuhan para cucu ini perlu ditingkatkan karena banyak orang tua di Ledokombo menitipkan pengasuhan anak-anak kepada para eyang. Para orangtua sibuk bekerja bahkan tak sedikit yang menjadi buruh migran.

“Mulai dari mengasuh anak, mengantar hingga anak pulang sekolah dilakukan eyangnya,” aku nenek dari dua cucu tersebut. Untuk itu, para eyang perlu diberi bekal cara mengasuh, mendidik hingga memenuhi hak anak. Mulai dari hak untuk bermain, mendapatkan pendidikan, perlindungan, makanan yang sehat, hak disayangi dan lainnya. Kegiatan pendidikan di sekolah eyang dilakukan dua kali dalam sebulan, yakni pada minggu pertama dan keempat. Ada tips khusus dari Juhariyah untuk memberi materi pelajaran kepada para eyang yakni harus dengan kalimat sederhana dan banyak memberikan slide-slide gambar agar menarik perhatian agar mudah dicerna dan tak membikin ngantuk. Dalam forum Sekolah Eyang, mereka juga saling memberikan informasi tentang perkembangan anak. Bila ada yang kurang baik, maka menjadi bahan diskusi untuk diselesaikan secara bersama. Sebuah contoh, bila salah satu dari eyang menemukan anak yang berperilaku kurang baik, mereka menyampaikannya dalam sekolah dan tidak boleh marah bila cucunya ditegur. Intinya, para eyang ini saling koreksi untuk mendidik anak yang baik. Tak hanya ilmu mengasuh cucu, Sekolah Yang Eyang juga membekali para eyang agar menjadi lansia produktif dan berkualitas. Di sekolah ini diajarkan cara menyiapkan menu sehat tanpa MSG, pertolongan pertama bagi para eyang jika terjadi kecelakaan kecil di rumah, hingga menanam tanaman obat keluarga. Materi yang dibahas berasal dari persoalan yang dialami eyang. “Dengan hadirnya sekolah Yang Eyang, para eyang merasa bahagia karena sering berkumpul dengan teman-temannya. Mereka tidak lagi kesepian di rumah.” Demi kelancaran Sekolah Yang Eyang, Juhariyah bersama tim telah memiliki kurikulum yang lengkap, visi misi yang jelas, dan rencana jangka pendek, menengah, dan panjang. Misalnya kurikulum tentang dampak buruk gawai pada anak dan cara menggunakannya. Mengenal jenis obat terlarang dan memabukkan serta cara mengetahui anak yang terkena pengaruh obat tersebut. Juga ilmu tentang seks yang menyimpang dan cara agar anak tidak menjadi korban. Kurikulum tentang hidup sehat dan terhindar dari radikalisme juga masuk dalam materi pengajaran. Bahkan cara membuat jamu sehat, mengenali kesehatan anak, serta dampak makanan yang tidak sehat bagi anak. Semua itu dipelajari di sekolah eyang untuk diterapkan. Juhariyah juga telah membuat mars Sekolah Yang Eyang. Juhariyah yang selalu update perkembangan sosmed ini sering mengadaptasi gerakan-gerakan senam terbaru yang sedang ngetrend di Youtube untuk dikompilasi dan dijadikan gerakan senam bagi para eyang. “Agar mereka tetap bersemangat dan selalu ceria.” Saat ini, Sekolah Yang Eyang memiliki 48 anggota yang aktif, mulai dari pra lansia dan lansia. Rata-rata peserta sekolah berumur 55 tahun ke atas hingga 80 tahun. Namun ada juga yang masih berusia 40 tahun ikut berpartisipasi dalam sekolah ini. Juhariyah mengaku sangat bersyukur karena hampir seluruh kegiatan Sekolah Yang-Eyang difasilitasi oleh Komunitas Tanoker, sebuah organisasi nirlaba yang intens dalam pendampingan anak-anak para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Komunitas Tanoker telah mendampingi 249 anak per Agustus 2018 dan 52 anak diantaranya ditinggal sang ibu sebagai buruh migran. Bila sekolah eyang membutuhkan narasumber yang kompeten, dia bekerjasama dengan komunitas Tanoker untuk mendatangkan nara sumber. Selain mengikuti kelas dua minggu sekali, para eyang di Desa Ledokombo juga melaksanakan senam sebanyak tiga kali dalam sepekan pada hari Selasa, Kamis, dan Minggu. Setiap pertemuan menjadi semakin semarak karena mereka telah mempunyai yel – yel khusus. Sekolah Yang-Eyang juga mempunyai lagu mars yang dilantunkan bersama saat akan mengawali materi sekolah untukmembangkitkan semangat. Para siswa Sekolah Yang-Eyang juga sering diundang untuk mengadiri acara-acara penting di lingkup Kabupaten Jember dan sekitarnya. Mereka juga diundang menghadiri Festival Egrang IX Tanoker Ledokombo, Jember, Sabtu 22 September 2019, yang juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Yohana Yembise. Dalam setiap acara yang dihadiri, para eyang ini tampak kompak, ceria, dan bersemangat. Seperti pada awal November 2018 lalu, perwakilan dari sekolah Yang-Eyang diundang untuk menghadiri acara Temu Pandu Inklusi Nusantara di Yogyakarta. Dalam pertemuan itu, Juhariyah menjadi salah satu tamu undangan. Nenek dua cucu ini tampak semangat membagikan pengalamannya selama aktif di Sekolah Yang Eyang dan tampak antusias mengikuti acara-acara studi banding ke beberapa desa pilihan di Yogyakarta. Katanya, banyak ilmu didapat termasuk tentang cara pengelolaan sampah yang efektif dan efisien. Ke depan, untuk program jangka panjang, Juhariyah ingin menerapkan ilmu pemilahan sampah dan membuat bank sampah di Sekolah Yang Eyang. Dana yang terkumpul digunakan untuk pengobatan lansia yang tidak mampu. “Kami bermimpi untuk mempunyai balai kesehatan khuus untuk lansia yang tidak mampu,” harap Juhariyah. ***  

Djuhariyah lahir di Trenggalek, 20 Januari 1955, dari keluarga sederhana namun memiliki cita-cita besar untuk mendidik anak-anaknya. Saat Juhariyah berusia 21 tahun, wanita enerjik yang telah diangkat menjadi guru sekolah dasar ini dipindahtugaskan ke Kabupaten Jember. Kebetulan saat itu Kabupaten Jember kekurangan banyak guru Sekolah Dasar sehingga mendatangkan guru dari daerah lain. Sejak saat itu, Juhariyah tinggal dan menetap di daerah yang berada di wilayah tapal kuda, Jawa Timur. Djuhariyah lahir di Trenggalek, 20 Januari 1955, dari keluarga sederhana namun memiliki cita-cita besar untuk mendidik anak-anaknya. Saat Juhariyah berusia 21 tahun, wanita enerjik yang telah diangkat menjadi guru sekolah dasar ini dipindahtugaskan ke Kabupaten Jember. Kebetulan saat itu Kabupaten Jember kekurangan banyak guru Sekolah Dasar sehingga mendatangkan guru dari daerah lain. Sejak saat itu, Juhariyah tinggal dan menetap di daerah yang berada di wilayah tapal kuda, Jawa Timur. Dalam perjalanan karirnya, Juhariyah menjadi guru selama 12 tahun, dipercaya sebagai kepala sekolah selama 12 tahun, dan dipilih menjadi pengawas selama 12 tahun, sebelum pensiun tiga tahun lalu. Suami Juhariyah adalah juga seorang guru, dan telah menghadap Sang pencipta pada 13 tahun lalu. Memasuki masa purnatugas, Juhariyah yang terbiasa aktif ini memilih bergiat di Tankoer sebagai Timdes di lingkungan. Di sini, dia bisa menyalurkan ilmunya untuk mengabdi ke sesama lansia. Kini, satu harapan Juhariyah, ia ingin Sekolah Yang-Eyang bisa diadopsi di daerah lain yang lebih luas, bahkan di seluruh wilayah Indonesia. “Agar eyang yang sudah lansia merasa percaya diri dan merasa berguna. Agar kualitas hidup para eyang meningkat dan mereka tidak merasa kesepian di usia senja,” pungkasnya.#  

Riwayat Hidup

Nama : Juhariyah

Tempat tanggal Lahir : Trenggalek, 20 Januari 1955

Pekerjaan : Kepala Sekolah Yang Eyang, pensiunan guru

Share This