Kampung Hijau ala Warga Cimone. 

Suherman sukses menyulap gang kumuh di kampungnya menjadi kampung inovasi hidroponik berkat kemandirian dan gotong-royong.

Empat tahun yang lalu, gang menuju ke permukiman warga di RT 01/ RW 02, Kelurahan Cimone, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, terasa seram. Bukan karena banyak hantu tapi karena suasananya yang kumuh sehingga bikin tak nyaman.

Bahkan, jika sedang tak terburu-buru, warga yang menggunakan akses alternatif menuju ke Jalan Utama Gatot Subroto, Tangerang, pasti lebih memilih memutar melalui gerbang utama perumahan Bugel Indah yang bisa menambah jarak dan waktu tempuh.

Tapi, lain dulu lain sekarang. Gang yang dulu ‘horor’ kini berubah menjadi tersohor karena keindahannya. Kawasan kumuh itu kini telah berubah menjadi Kampung Inovasi Hidroponik.

Suherman, sang penggagas kampung inovasi menuturkan, terciptanya Kampung Inovasi Hidroponik berkat kemandirian dan gotong royong warga untuk merubah kampung yang kumuh menjadi kampung bersih dan hijau.

Kerja keras warga yang dimotori Suherman yang juga merupakan Ketua RT 01/RW 01 ini dimulai pada September 2017. Kerja keras kolektif itu, kini mulai membuahkan hasil. Kampung tersebut mulai banyak dikunjungi.

”Untuk menjadikan kampung  hijau, salah satunya kami bercocok tanaman,  seperti kangkung, selada, dan caisim,” ujar Suherman. Sayur-sayuran itu ditanam pada media hidroponik yang dipasang di dinding rumah dan pelataran kosong.

Menurut Suherman yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai honorer di Kecamatan Karawaci, Kampung Inovasi Hidroponik saat ini masih dalam tahap proses pengembangan oleh warga. Semua kebutuhan untuk mengembangkan kampung inovasi hidroponik dilakukan secara swadaya, tanpa bantuan pemerintah setempat. Bahkan, pada awal-awal kegiatan, Suherman sempat menggadaikan laptop dan menggunakan honor RT uang untuk mencukupi kebutuhan kampung hidroponik.

“Karena ini hasil swadaya warga, kita baru punya empat lokasi untuk tanaman hidroponiknya,” ucapnya.

Untuk menambah keindahan, kampung inovasi yang sudah hijau kemudian diberi aksen klasik dengan memanfaatkan barang-barang bekas untuk dimanfaatkan sebagai sarana bermain anak-anak.

“Kami bangun sarana bermain yang dibuat dari bahan bekas, seperti  peti buah dan valet. Ada motor boat yang terbuat dari bahan valet, lalu ada kereta yang dibuat dari bahan peti bekas, kemudian miniatur rumah serta ayunan mainan anak-anak,” terang Suherman.

Menurut Suherman, terciptanya kampung inovasi hidroponik ini bukan untuk ajang perlombaaan, namun ia bersama warga hanya ingin mengubah kampung yang tadinya kumuh menjadi kampung bersih dan indah.

“Kami berharap ke depan Kampung Inovasi Hidroponik Cimone ini bisa lebih baik lagi dan selalu ada inovasi baru untuk memberikan yang terbaik bagi warga Kampung  Cimone. Alhamdulilah, dengan hasil kemandirian semua bisa dirasakan oleh warga,” ungkapnya.

Kini, setelah dua tahun Kampung Inovasi Hidroponik berjalan, kampung yang dulu kumuh telah berubah menjadi sejuk, hijau, dan tertata rapi dan mulai bayak dikunjungi warga dari luar daerah sebagai salah satu destinasi wisata edukasi lingkungan. Bahkan, salah satu universitas di Jakarta melakukan studi kunjungan ke tempat ini. Para pengunjung juga tak sedikit yang membeli hasil panenan sayur, alat-alat hidroponik, dan ada juga yang pesan tutup lubang biopori.

“Mereka yang datang ke sini melihat kemandirian dan gotong royong warga di sini,” Suherman yang tak bisa menyembunyikan rasa syukur dan bangga.

Suherman berharap, ke depan Kampung Inovasi Hidroponik Cimone ini bisa menjadi lebih baik dan selalu ada inovasi baru dari warga agar tetap bisa bergerak demi kemajuan lingkungan bersama.#

Share This