Mendunia karena Biji Buah Nyamplung. 

Dosen IPB mendapat penghargaan dari Presiden Perancis berkat inovasi mengembangkakn energi terbarukan dengan memanfaatkan biji nyamplung sebagai minyak biodiesel.

Pengembangan energi terbarukan menjadi isu penting di dunia saat ini. Seiring dengan meningkatnya polusi dan pemanasan global, negara-negara maju berlomba-lomba untuk menciptakan energi yang ramah lingkungan.

 

Peraturan-peraturan lingkungan pun dibuat supaya negara-negara industri ikut serta berpartisipasi dalam mengurangi pemanasan global. Tidak hanya negara industri, negara berkembang juga terkena dampak dari peraturan tersebut

Adalah Dr. Ika Amalia Kartika, dosen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), yang giat mengembangkan energi terbarukan berupa biodiesel dari biji buah nyamplung.

Buah nyamplung banyak dijumpai di pekarangan rumah di kawasan pedesaan. Pohonnya berbatang besar dengan tinggi mencapai kira-kira 20 meter dan diameter batang bisa mencapai 1,5 meter. Kayu nyamplung kuat dan tahan terendam air laut. Itulah sebabnya kayu ini banyak dimanfaatkan untuk bahan pembuat perahu.

Meskipun buah nyamplung belum banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun bijinya banyak digunakan untuk membuat bahan bakar seperti biodiesel.

Hal tersebut memotivasi Dr. Ika untuk melakukan penelitian lebih jauh untuk memanfaatkan biji buah nyamplung sebagai bahan biodiesel. Pengembangan riset tersebut mencakup pemurnian minyak nyamplung dari resin, peningkatan rendemen hasil transesterifikasi in situ, dan produk sampingan dari biji buah nyamplung.

Dr. Ika turut ikut serta dalam kegiatan Make Our Planet Great Again tahun 2018, sebuah program yang diinisasi oleh pemerintah Prancis sebagai upaya dalam penanganan pemanasan global. Program tersebut diperuntukkan oleh peneliti, mahasiswa doktoral, dan mahasiswa internasional.

Pada program yang diikuti dari berbagai negara di dunia, Dr. Ika mendapat penghargaan Laureate dalam program Make Our Planet Great Agian 2018 dari Presiden Prancis bulan Oktober 2018.

Sebelum menggunakan biji buah nyamplung, awalnya, Dr. Ika menggunakan buah jarak sebagai bahan baku biodiesel, namun ternyata kadar minyak buah jarak terlalu rendah (hanya 37 persen bahkan bisa lebih rendah lagi yakni 20 persen).

Sehingga Dr. Ika memutuskan mencari pengganti buah jarak dan menemukan biji buah nyamplung. Menurutnya, kadar minyak yang dihasilkan dari biji buah nyamplung dapat mencapai 50 persen.

“Selain rendemen yang dihasilkan tinggi, produktivitas buah nyamplung juga tinggi. Produktivitas buah nyamplung bisa mencapai 20 ton per hektare,” ujar Dr. Ika.

Dr. Ika mengaku, terdapat beberapa peraturan yang harus dipenuhi dalam pengembangan biodiesel. Beberapa diantaranya adalah bahan baku biodisel tidak berasal dari bahan pangan, harga lebih murah dan tentunya ramah lingkungan, baik dari proses pembuatannya maupun hasil akhirnya.

Ia menilai, dengan menggunakan biji buah nyamplung, proses pembuatan biodiesel lebih ramah lingkungan. Pasalnya proses pembuatan biodisel dari biji buah nyamplung tidak perlu melakukan pembuatan minyak dan pemurnian terlebih dahulu, melainkan cukup dengan teknologi transesterifikasi in situ.

“Dengan menggunakan teknologi transesterifikasi in situ, proses pembuatan minyak dan pemurnian minyak dapat dihilangkan sehingga harga biodiesel dari biji buah nyamplung lebih murah. Di sisi lain, rendemen yang dihasilkan pun juga lebih banyak,” ujar Dr. Ika.

Meskipun biji buah nyamplung memiliki potensi yang besar sebagai bahan baku biodiesel, masih terdapat beberapa permasahan dalam proses pembuatannya. Menurut pengakuan Dr. Ika, proses pembuatan minyak nyamplung memerlukan teknologi ekstruksi yang dapat beroperasi dengan cepat dan kontinyu.

Di sisi lain, kandungan resin yang ditemukan dalam minyak nyamplung juga menjadi masalah yang harus segera diselesaikan. Ke depannya, Dr. Ika akan berusaha menjadikan resin sebagai produk yang bernilai tinggi.#

Share This