Dari limbah dapur, Yuli Ekayani membuat sabun alami. Ia merawat kulit, sekaligus menjaga bumi tetap bersih dari zat kimia yang mencemari air dan tanah.

TOKOHINSPIRATIF – Di sebuah rumah sederhana di Kerobokan, Kuta Utara, aroma jeruk sisa potongan buah menyeruak dari sebuah toples tertutup rapat. Di sanalah, Ni Wayan Yuli Ekayani mengubah limbah organik menjadi eco-enzyme—cairan hasil fermentasi yang hari ini banyak dicari pecinta produk ramah lingkungan. Namun Yuli tidak berhenti di situ. Ia menyulap cairan itu menjadi sabun alami.

Karyanya lahir dari kegelisahan: sampah rumah tangga yang terus menumpuk, sementara produk perawatan kulit semakin kaya zat kimia. “Eco-enzyme ini menjaga lingkungan kita bebas dari zat kimia. Kulit juga jadi lebih glowing,” ujarnya sambil tertawa ringan.

Sabun yang ia buat bertekstur lembut dan minim residu. Bahan utamanya hanya limbah kulit buah, gula, dan air yang difermentasi minimal tiga bulan. Hasilnya adalah sabun yang aman bagi kulit sensitif, meredakan gatal, dan tidak meninggalkan pencemar di air.

Merawat Kulit, Merawat Bumi

Produk sabun alami berbahan eco-enzyme. (foto: detikbali)

Sebagian orang memakai sabun hanya untuk membersihkan tubuh. Yuli menambah tujuan lain: memperbaiki siklus alam. Air sisa sabun berbahan eco-enzyme justru membantu mengurai polutan di saluran air. “Kita tuangkan ke tanah, tanah lebih subur. Ke air, air jadi lebih murni,” ujarnya.

Untuk menghasilkan eco-enzyme berkualitas, perbandingannya harus jelas: 1:3:10 — satu untuk molase (gula), tiga untuk bahan organik, sepuluh untuk air. Jika tidak mengikuti resep itu? “Itu namanya pupuk organik cair, bukan eco-enzyme,” tegasnya sambil tersenyum.

Yuli juga mengingatkan agar tidak memakai buah bergetah seperti nangka, durian, atau kelapa. Getah akan mengganggu aroma hasil fermentasi. “Kalau mau wangi, hindari dulu yang bergetah,” ujarnya.

Dari Dapur ke Komunitas

Proses pembuatan sabun padat cukup sederhana. Minyak kelapa, eco-enzyme murni, ampas fermentasi, minyak esensial, dan sedikit soda api dicampur dengan takaran tertentu. Setelah diletakkan di cetakan silikon, sabun dibiarkan mengeras dua minggu hingga benar-benar aman dipakai.

Ni Wayan Yuli Ekayani menunjukkan proses pembuatan sabun alami dari cairan eco-enzyme. (Foto: detikbali)

Soda api yang terdengar menakutkan ternyata hanya membantu pelarutan bahan. “Yang penting pakai alat pengaman, seperti masker dan sarung tangan,” jelasnya. Dengan 300 gram minyak kelapa, hanya diperlukan 47 gram eco-enzyme dan 57 gram soda api.

Yuli sudah empat tahun menekuni eco-enzyme. Ia tidak buru-buru memproduksi massal. Baginya, berbagi pengetahuan lebih penting daripada mengejar pasar. Karena itu ia membuka kelas daring dan membina komunitas, bukan sekadar menjual sabun.

Kepedulian yang Menular

Inovasi Yuli bukan gerakan besar. Namun ia percaya perubahan selalu berawal dari dapur sendiri. “Kalau kita bisa mulai dari rumah, kita sudah membantu alam,” katanya pelan.

Saat banyak orang sibuk mencari produk kecantikan yang instan, Yuli memilih jalan lebih sabar: menunggu fermentasi tiga bulan demi sabun yang tak hanya menyehatkan kulit, tetapi juga menyehatkan bumi.

Dari limbah dapur, ia membuat secuil harapan. Dari sabun alami, Yuli memberi pilihan baru: bersih tanpa merusak. Selembar kulit jeruk tidak sekadar sisa, tetapi awal cerita tentang bumi yang lebih ramah.