Muhammad Riza Adha Damanik, ST, Msi., PhD.

‘Diplomat’ Nelayan Nusantara

Muda, enerjik, dan cerdas

Pemuda ulet ini tak kenal lelah berjuang membangkitkkan sektor kelautan Indonesia dengan melakukan advokasi masyarakat nelayan untuk bangkit dari keterpurukan dari level lokal, nasional dan dunia. Baginya, lautan adalah masa depan bangsa yang harus dikelola secara baik oleh negara, nelayan, dan seluruh rakyat Indonesia secara bersama-sama.

Tak ada yang menyangkal bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 gugusan pulau yang berada pada batas dua samudra. Belasan ribu pulau ini dihubungkan oleh laut yang membentang luas, dan diakui dunia Internasional berkat adanya Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957.

Sebelum deklarasi itu diakui dunia Internasional, perairan laut Indonesia hanya diakui sejauh tiga mil dari garis pantai, berdasarkan ordonansi tentang laut teritorial dan lingkungan maritim. Tentu saja ini jadi masalah yang sangat serius. Sebab jika batas negara hanya tiga mil dari garis pantai, maka negara Indonesia akan terpecah-belah oleh adanya laut bebas di antara pulau-pulau yang dimiliki, karena diluar tiga mil adalah laut Internasional.

Karena ancaman itu, dengan segala keberanian dan risiko yang akan dihadapi, Perdana Menteri RI, Ir Djuanda, pada tanggal 13 Desember 1957 mengumumkan “Deklarasi Nusantara” kepada dunia Internasional yang menyatakan wilayah laut Indonesia tidak hanya sebatas tiga mil, tapi laut yang ada di sekitar dan di antara kepulauan nusantara. Dengan deklarasi itu, ribuan pulau yang dihubungkan oleh laut membentang luas, bukan lagi menjadi pemisah pulau-pulau Nusantara tetapi perekat kedaulatan negara. Dengan deklarasi itu pula, luas Laut Kedaulatan Indonesia menjadi 3.1 juta km2, Luas Laut ZEE 2.7 juta km2, Panjang Pantai 81,000 km!

Deklarasi ini tidak serta merta diterima masyarakat internasional. Perjuangan menegakan kedaulatan negara terus dilakukan melalui diplomasi yang tidak ada hentinya. Berkat perjuangan para penerus Djuanda, seperti Prof. Moechtar Kusumaatmaja dan Prof Hasyim Djalal, pada akhirnya deklarasi yang berisi konsepsi Negara Nusantara dapat diterima masyarakat Internasional dalam sebuah konvensi hukum laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nation Convention Low Of The Sea (UNCLOS). Dengan pengakuan itu, wilayah laut Indonesia pun bertambah luas dan potensi serta sumber daya alamnya makin bertambah.

Perjuangan tak kenal lelah dari Ir. Djuanda itulah yang menjadi inspirasi Muhammad Riza Adha Damanik, ST, Msi., PhD. untuk melakukan optimalisasi pengelolaan sumber saya kelautan melalui penguatan organisasi-organisasi nelayan Indonesia sejak 18 tahun terakhir. Perjuangan dari berbagai lini telah ia lakoni. Mengunjungi masyarakat pesisir, memperkuat organisasi nelayan, memperkuat kebijakan dengan aktif memberikan masukan-masukan kepada pemerintah, hingga di tingkat global dengan turut serta dalam berbagai konferesi tingkat internasional.

Riza yang menyelesaikan S-3 pada bidang pengelolaan sumberdaya alam di Universiti Sains Malaysia ini berpendapat, pembenahan desa-desa pesisir di kepulauan Indonesia membutuhkan sekurang-kurangnya tiga syarat utama. Pertama, tersedianya regulasi yang baik guna mendukung agenda kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan. Kedua, tersedianya sumberdaya kelautan yang cukup. Dan ketiga, tersedianya organisasi nelayan nasional yang kuat.

Organisasi nelayan yang kuat dapat dimaknai tiga hal, yakni berbasis anggota, terdidik, dan memiliki unit-unit ekonomi berskala.

“Inilah yang menjadi konsern dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI ) yang sejak sembilan tahun silam didirikan sebagai wadah organisasi nelayan nasional,” tutur Riza yang empat tahun lalu mewakili KNTI menjadi bagian dari delegasi Indonesia untuk melakukan negosiasi antarnegara anggota FAO.

Dalam pertemuan itu menghasilkan Instrumen Perlindungan Nelayan Skala Kecil. Meski harus melewati tiga kali perundingan yang melelahkan di Kantor Pusat FAO di Roma, Italia, Riza dan tim dari Indonesia berhasil mendorong sebuah kesepatakan yang baik. Sekarang dunia punya instrumen perlindungan nelayan kecil.

Di dalam negeri, KNTI berhasil mendorong lahirnnya UU Perlindungan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam. Meski belum ideal, tapi instrumen ini cukup maju dibanding negara-negara lain di dunia. Sayangnya, semakin ke bawah, UU ini mengalami penyusutan manfaat dan tidak sedikit terselewengkan. Disinilah peran organisasi nelayan itu menjadi penting, guna memastikan agar instrumen kebijakan tersebut tidak sekedar baik di atas kertas. Yang lebih penting adalah bermanfaat di tengah kehidupan keluarga nelayan dan masyarakat umumnya.

Intinya, terang Riza, ketertinggalan kita mengelola laut dapat terkoreksi bila ada sinergi yang baik antara pemerintah, akademisi sendiri, aktivis, dan nelayan-nelayan terorganisir sebagai motor penggerak. “Laut Indonesia sangat luas, karenanya membutuhkan kolaborasi yang luas pula,” cetus Riza yang kini menjadi Asisten Koordinator Staf Khusus Presiden.

Bagi Riza, laut adalah masa depan bangsa Indonesia. Di laut seluruh keunggulan kompetitif bagi negeri ini. Namun untuk merayakan keunggulan tadi, kita tidak bisa bermalas-malasan. Perlu kerja lebih keras, perlu kerjasama, perlu lebih terorganisir, perlu kepemimpinan yang kuat.

“Apa yang sedang dan akan terus KNTI lakukan adalah melahirkan kepemimpinan-kepeminan kuat di desa-desa pesisir. Punya kemandirian, berbudaya, serta ingin melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik di lingkungannya.”

***

Muhammad Riza  Adha Damanik lahir di Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara, sebuah kota pesisir yang cukup terkenal dengan kekayaan sumberdaya perikanannya. Kedua orang tuanya, H. Hadmansyah Damanik – Hj.N.Purba, meyakini bahwa suatu kaum dapat berubah menjadi lebih baik hanya dengan menimba ilmu dan berorganisasi. Karena itulah pasangan ini selalu mendorong anak-anaknya untuk menimba ilmu dan memperkaya pengalamannya dengan berorganisasi.

Hasilnya, dalam usia 25 tahun, Riza berhasil menyelesaikan studi S-2 di Universitas Gadjah Mada untuk program studi Ilmu Lingkungan, dan menyelesaikan S-3 ada usia 36 tahun di Universiti Sains Malaysia. Adik bungsunya pun menyelesaikan S-2 pada usia 26 tahun. Tentu sebuah prestasi yang cukup membuat kedua orangtuanya bangga.

Masa kecil sampai menyelesaikan sekolah bangku SMU, anak tengah dari tiga bersaudara ini menghabiskan waktu di Medan. Jadwal belajarnya pun cukup padat. Sejak usia 6 tahun, selepas sekolah formal, ia mengikuti sekolah agama yang berada tidak jauh dari rumah. Malam hari, dilanjutkan dengan kursus privat membaca Al-Qur’an tiga kali seminggu, dan pelajaran dalam mata pelajaran khusus seperti matematika, fisika, dan kimia pada hari lainnya.

Riza kecil sudah aktif berorganisasi sejak duduk di bangku SD hingga SMA. Mulai dari perhimpunan terkecil di dalam kelas, sampai pada organisasi sekolah, bahkan antar sekolah. Selain aktif berorganisasi, Riza yang bercita-cita menjadi diplomat ini juga gemar berolah raga. Seperti sepak bola, tenis meja, bola basket, hingga renang. Sejumlah prestasi sempat diraih dalam bidang-bidang olah raga tersebut.

Memasuki kehidupan kampus, “ladang” bermain Riza kian luas. Terlebih, hasrat keingintahuan dan keprihatinannya atas apa yang terjadi pada kehidupan masyarakat pesisir. Pertanyaan mendasar yang selalu menggelitik di benaknya, mengapa laut yang begitu luas dan kaya, tapi tidak bisa membuat kehidupan nelayan sejahtera?

Yang juga membuat jiwa muda Riza gundah, ia melihat begitu kurangnya perhatian generasi kala itu dalam bidang kelautan dan perikanan. ”Saya bertekad untuk menjawab tantangan kemiskinan intelektual kelautan tersebut,” ucap Riza yang memulai pendidikan S-1 Kelautan dan Perikanan di Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar, namun menyelesaikannya di Universitas Diponegoro (UNDIP).

Di kampus, Riza dipercaya menjadi Koordinator Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan se-Indonesia (HIMITEKINDO). Dari sini pula, ia bertemu dengan intelektual kelautan nasional yang jumlahnya tentu sangat-sangat terbatas kala itu.

Meski sibuk dengan berbagai organisasi kemahasiswaan, Riza mampu menyelesaikan studinya di S-1 tepat waktu. Tamat kuliah pada 2003, ia langsung melanjutkan pendididikannya ke jenjang pasca sarjana di Universitas Gadjah Mada. Ia memilih program studi ilmu lingkungan, dengan pengkhususan penelitian pada pengelolaan wilayah pesisir dan sedimentasi.

Riza memang tak bisa diam. Di sela-sela menyelesaikan pendidikan, bersama sejumlah penggiat kelautan di Yogyakarta, ia masih sempat membangun sebuah organsasi yang konsern di bidang kelautan dan perikanan. Di Yogyakarta pula, ia mulai aktif membangun perpekspektif kelautan yang berkeadilan melalui media tulisan artikel baik di media lokal dan nasional, serta sejumlah karya ilmiah.

Perkenalannya dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dimulai pada 1999 di Makassar, saat ia masih semester tiga. Ketika itu ia dan beberapa jaringan organisasi dari berbagai Universitas se-Indonesia sedang giat membangun jaringan pesisir. Riza meyakini bahwa upaya pembenahan sektor kelautan dan perikanan Indonesia tidak dapat dilakukan hanya oleh sekelompok orang saja.

Walhi menyambut gagasan segar Riza. Singkat cerita, upaya keras Walhi menghantarkan isu kelautan dan perikanan menjadi salah-satu topik ekonomi politik nasional yang diperhatikan saat ini. Di organisasi lingkungan hidup terbesar di Indonesia ini pula ia didaulat sebagai koordinator divisi kampanye pesisir dan laut Walhi.

Menyelesaikan tugasnya sebagai koordinator divisi kampanye pesisir dan laut Walhi, Riza sibuk mengelola sebuah organisasi yang ia beri nama KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan). Organisasi ini merupakan sebuah jaringan organisasi nonpolitik dan organisasi massa yang bekerja pada isu perikanan dan kelautan di Indonesia. Organisasi ini lebih terfokus pada advokasi kehidupan nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Pada 2015, Riza memegang amanah sebagai Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI). Kegigihannya berjuang di tingkat global membuatnya dipercaya sebagai Koordinator untuk Asia pada Asia Europe People Forum (AEPF) peiode 2015-2016.

Delapan belas tahun berlalu, perjuangan Riza di sektor kelautan teruji. Walapun banyak tantangan mengiringi, namun ia tak mau menyerah. Diakui, dalam perjalanannya sering kali proses penguatan organisasi nelayan di daerah berhenti, baik karena faktor eksternal maupun internal. Namun bagi Riza, itu bukan persoalan besar.

“Saya percaya setiap masalah ada solusinya, dan setiap komunitas ada pemimpinnya,” kata Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice periode 2013-2015.

Terbukti, saat ini KNTI sebagai bagian dari organisasi nelayan sedunia atau WFFP (World Forum of Fisher People) mendapat banyak kesempatan untuk mengirimkan kader-kader di tingkat desa mengikuti banyak pelatihan, baik di tingkat nasional, regional bahkan internasional—sehingga kita tidak pernah kekurangan pemimpin di daerah.

Perjuangan panjang dan penuh tantangan ini telah memberikan banyak perubahan bagi pergerakan nelayan di Tanah Air. Riza menyebut, saat ini secara kuantitatif jumlah anggota terus bertambah dan jumlah sebaran wilayah terus bertambah. Kelembagaan ekonomi nelayan juga terus bertambah, mulai dari urusan permesinan, perdagangan, pelatihan hingga sekarang mulai berkembang pada urusan permodalan. Sedangkan di level kebijakan, KNTI bersama-sama jaringannya banyak dilibatkan dalam pembentukkan regulasi di tingkat daerah, nasional, bahkan internasional.

“Pekerjaan rumah selanjutnya adalah memastikan instrumen tersebut benar-benar membawa manfaat seluas-luasnya bagi keluarga nelayan maupun rakyat Indonesia secara luas,” cetus bapak dua anak yang tak pernah kehabisan energi untuk terus membangkitkan semangat pemuda – pemudi nelayan yang punya kesungguhan berorganisasi.

Bagi Riza, mereka penting karena belum banyak terpapar kondisi negatif di masa lalu, dimana pada saat itu nelayan tidak lagi tertarik membicarakan kebijakan dan berorganisiasi karena berpuluh-puluh tahun lamanya merasa dimanipulasi, ditipu, disingkirkan dari program pembangunan. “Anak-anak muda ini energinya masih besar dan seharusnya punya pengetahuan cukup untuk memulai perubahan di kampungnya.”

Sekali lagi, Riza menegaskan bahwa laut adalah masa depan negeri ini. Indonesia berpeluang menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada 2050. Namun proyeksi tersebut tidak dapat diraih dengan bermalas-malasan dan tanpa mempersiapkan generasi muda unggul.

“Jika kita tidak sungguh-sungguh, maka anak-anak muda ini justru terancam dilanda kemiskinan ekstrim ke depannya,” tegasnya.

Dan inti dari perjuangan panjang ini adalah tidak ada lagi alasan bagi generasi muda Indonesia untuk berpangku tangan. Banyak hal bisa dilakukan untuk membangun negeri ini.

Jika masih bingung mengawali, katanya, bergabunglah ke KNTI. Mari bersama-sama merawat kampung-kampung pesisir di berbagai pelosok Tanah Air. Agar pada 10, 20, 30 atau tahun-tahun ke depan Indonesia menjadi negara unggul di dunia, menjadi negara yang sebenar-benarnya sejahtera.

“Jangan ragu, laut adalah jalan kesejahteraan bangsa kita!”

————————————————————-

Biodata

Nama : Muhammad Riza Adha Damanik
Lahir : Tanjung Balai-Sumatera Utara, 17 Oktober 1980
Status Pernikanan : Menikah, dua anak
e-mail : riza.damanik@gmail.com; mriza_damanik@yahoo.com

Riwayat pendidikan
2010 – 2016 : PhD., School of Humanities, Universiti Sains Malaysia.
2003 – 2005 : MSi., Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
2000 – 2003 : ST., Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang.
1998 – 2000 : Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin, Makassar.
1995 – 1998 : Sekolah Menengah Umum, SMUN 5, Medan Sumatera Utara.
1992 – 1995 : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, SMPN 4, Medan Sumatera Utara.
1986 – 1992 : Sekolah Dasar, SD Nurul Islam Indonesia, Medan Sumatera Utara.

PENGALAMAN ORGANISASI/ PEKERJAAN (10 tahun terakhir)
2018 – sekarang : Asisten Koordinator Staf Khusus Presiden
2016 – 2018 : Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP) www.ksp.go.id
2015 – 2017 : Wakil Ketua Umum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO). www.iskindo.or.id
2015 – sekarang : Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI). Selegkapnya www.knti.or.id
2015 – 2016 : Koordinator untuk Asia pada Asia Europe People Forum (AEPF). selengkapnya www.aepf.info
2013 – 2015 : Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice. Selengkapnya www.igj.or.id
2012 – 2015 : Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI). Selengkapnya www.knti.or.id
2012 – 2016 : Wakil Indonesia untuk Komite Internasional Asia Europe People Forum (AEPF). www.aepf.info
2008 – 2013 : Sekretaris Jenderal KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan).
2007 – 2010 : Country Convenor-Indonesia pada SEAFish (Southeast Asia Fish for Justice). 2006 – 2012 : Koordinator Kampanye untuk ASIA (Asia Solidarity againts Industrial Aquaculture).
2005 – 2008 : Manager Kampanye Eksekutif Nasional WALHI Bidang Pesisir dan Laut. Jakarta. www.walhi.or.id#

Share This