Siti Nurrofiqoh

Pendiri Koperasi Masyarakat Bangkit. 

Berdayakan Buruh bersama Koperasi Masyarakat Bangkit

Ditempa pengalaman getir menjadi buruh sejak belia membuat Siti Nurrofiqoh tumbuh menjadi sosok tangguh dalam memperjuangkan harkat hidup dan kemerdekaan para buruh. Bersama serikat buruh dan Koperasi Masyarakat Bangkit yang dia dirikan, Siti berharap buruh menjadi lebih sejahtera, lebih sehat, lebih berpengetahuan, dan lebih bertanggungjawab. Siti ingin hukum lebih adil untuk mereka.

Sebuah warung tak jauh dari pintu gerbang Perumahan Citra Maja, Lebak, Provinsi Banten, tampak ramai pengunjung. Dalam daftar menu, tertulis ayam bakar, ayam goreng, pecel lele, sop daging, tonseng, hingga es kelapa muda. Semua menu sehat dan tak pakai penyedap rasa buatan. Sungguh istimewa.

Selain menu di atas, warung Lesehan Kedai Bambu juga menyuguhkan air rebusan daun kenikir ataupun rebusan daun kelor sebagai ‘wellcome drink’ bagi para pengunjungnya. Agak pahit memang, tapi umumnya pengunjung mau menegak minuman sehat itu setelah pramusaji menjelaskan manfaat rebusan daun kelor dan daun kenikir untuk kesehatan. Dari situlah biasanya komunikasi antara pengunjung dan penjual mulai cair.

Warung Lesehan Kedai Bambu ini memang istimewa. Terlebih sejarah pendiriannya yang mengusung semangat perjuangan kaum buruh untuk memperbaiki perekonomian para buruh.

Adalah Siti Nurrofiqoh, sosok paling berperan dalam perjuangan ini. Lama mengamati prilaku masyarakat di sekitarnya yang kebanyakan sebagai buruh pabrik, Siti yang juga mantan buruh pabrik ini mengajak rekan-rekannya untuk bersatu mengubah nasib.

“Terkadang saya berpikir, selain perjuangan kenaikan upah tiap tahun, ada bagian lain yang perlu diedukasi juga yaitu kebiasaan nabung, minjam di tempat murah, syukur-syukur  bisa diajak kompak bahwa pembelanjaan uang bisa di lingkar mereka juga, bisa ada sharing SHU untuk pergerakan juga,” terang Siti panjang lebar menjelaskan latar belakang berdirinya Koperasi Masyarakat Bangkit pada 2016.

Kata ‘Bangkit’ yang merupakan kepanjangan dari ‘Bangun Kesadaran Kita’ perlahan-lahan tumbuh subur dalam komunitas yang mereka bangun dengan menggusung slogan: berani, jujur, dan mandiri. Adapun koperasi diberi nama Koperasi Masyarakat Bangkit. Dengan Serikat Buruh Bangkit dan Koperasi Masyarakat Bangkit, Siti dan Nur mencoba mengajak para buruh bersatu, bersolidaritas, dan saling bantu untuk menuju kehidupan dan penghidupan yang lebih baik dana bermartabat.

Rofiq, demikian Siti Nurrofiqoh biasa disapa, menyebut tak sedikit dari buruh yang terjebak pinjaman dengan bunga tinggi, sehingga tiap gajian uang habis buat menutup lubang hutang. Yang juga membuat kondisi perekonomian para buruh tak pernah beranjak dari himpitan ekonomi adalah prilaku konsumtif sehingga mereka tak sempat punya tabungan. “Berapa pun uang didapat, akan habis untuk belanja hal-hal yang bukan kebutuhan utama,” cetus Siti.

Karena tak terbiasa menabung dan membelanjakan pendapatan dengan cerdas, tak sedikit dari mereka yang kebakaran jenggot saat terdesak biaya pendidikan anak-anak atau kebutuhan berobat karena sakit. Walhasil, banyak yang rumah disita dan terpaksa dijual murah.

Menurut Siti, pendirian warung tak lepas dari keinginnan untuk bisa mencukupi kebutuhan pribadi sekaligus membantu operasional serikat buruh yang didirikan bersama rekan-rekannya. Ia ingin membangun serikat dalam arti sesungguhnya, yakni membangun sebuah gerakan secara nyata. Secara internal, ia ingin membangun manusia-manusia yang ada dalam serikat ini agar mempunyai kesadaran untuk mengetahui masalah yang sedang dihadapi, kesadaran untuk belajar, untuk bersatu, untuk mandiri, untuk beratitude yang baik, dan pada ujungnya kesadaran mau melakukan sesuatu. Karena baginya, serikat adalah jalan hidup, bukan jalan karir secara ekonomi.

Namun Siti sadar, menggerakkan manusia dengan berbagai keinginan dan isi kepala bukan perkara mudah. Terlebih, mayoritas buruh masih berpikiran dangkal. Mereka mengartikan ‘serikat’ sebagai simbol dan gengsi-gengsian. Siti mengatakan, seringkali rekan-rekannya hanya duduk manis, tak mau repot, dan menyerahkan setiap masalah pada pimpinan organisasi. Mayoritas masih lebih cenderung melihat kepentingan-kepentingan pendek dan sesaat.

“Gerakan yang kami lakukan masih dalam proses dan butuh napas panjang untuk menuju kata berhasil. Karena itu, warung menjadi BBM kami sehari-hari,” terang Siti yang mendirikan warung bersama rekan seperjuangannya, Mbak Nur.

Koperasi Masyarakat Bangkit yang dirikan bersama 67 orang buruh lain diharapkan menjadi salah satu perjuangan bagi buruh yang telah dirintis sejak awal. “Agar mereka bisa melihat pilihan lain yang punya nilai lebih: gotong royong, saling bantu, bisa menabung, dan meminjam tanpa harus terlilit rentenir lagi,” ungkap Siti.

Bicara perubahan nasib buruh adalah bicara tentang perubahan pribadi-pribadi yang di dalamnya ada etos, kesungguhan niat, kemandirian, dan kemerdekaan. Dinamikanya, menurut Siti, sangat kompleks.

“Kebanyakan buruh memaknai serikat sebagai dewa penolong, atau pemadam kebakaran, yang harus bekerja secara gratis tanpa iuran. Mereka masih menganggap serikat ala perpanjangan tangan pengusaha sehingga berserikat bisa gratis, kadang-kadang malah diberi sesuatu untuk event-event tertentu. Itu yang perlahan kami sadarkan,” katanya.

Bicara buruh juga tak terlepas dari rumpun keluarga dimana mereka tinggal dan latar belakang mereka. Menurut Siti, mayoritas buruh di Indonesia belum tahu tentang persoalan apa sesungguhnya yang dihadapi sehingga mereka tidak bebas untuk memutuskan sesuatu dan bahkan menghambat mereka untuk berkembang. Ini tak lepas dari pendidikan yang rendah dan pengtahuan yang minim.

Mengambil contoh koperasi yang didirikan, walaupun telah terdaftar sebagai anggota koperasi simpan pinjam, masih ada saja anggota yang memilih jalan pintas untuk meminjam uang ke renternir dengan alasan lebih cepat dan tidak ribet. Mereka juga masih malas untuk menabung, tak mau tahu soal pendidikan, alih-alih peduli soal kegotong-royongan.

Layaknya menetesi batu dengan air, perlahan namun pasti Siti membangun komunikasi yang baik dengan rekan-rekan sesama buruh dengan harapan membangun pemahaman pada diri mereka. Setiap ada kesempatan, selalu dimanfaatkan untuk ngobrol dari hati ke hati.

“Kami bangun relasi dalam tiap transaksi jual beli, di momen-momen saat mereka curhat, perhatian-perhatian kecil saat membantu hal-hal kecil di pasar sampai akhirnya dengan sendirinya mereka masuk ddengan kesadaran sendiri,” kata Siti yang menerima anggota koperasi kebanyakan dari hasil rekomendasi teman-temannya untuk menjaga agar tujuan organisasi bisa tetap terkontrol dan terukur, termasuk kualitas sumberdaya manusianya, di samping ada pendekatan-pendekatan lain yang dilakukan.

Bicara soal hasil, lagi-lagi Siti mengatakan semua masih berproses. Melihat bahwa mulai banyak buruh yang ingin bergabung dengan Koperasi Bangkit, bagi Siti itu sudah sangat melegakan.

*** 

Hidup dalam keterbatasan sejak kecil membuat Siti tumbuh menjadi sosok tangguh. Melihat begitu keras perjuangan orangtuanya menghidupi keluarga, Siti bertekad mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Tamat Sekolah Dasar di Desa Kalirejo, Salaman, Magelang, Siti kecil harus menghadapi kenyataan bahwa biaya sekolah tak terjangkau oleh orangtuanya yang hanya seorang petani kecil. Meskipun sangat ingin melanjutkan pendidikan ke SMP seperti teman-teman sebayanya, Siti memilih bekerja di sebuah pabrik di Magelang, untuk membantu perekonomian orangtuanya.

“Ketika melihat bagaimana orang-orang yang mencintaiku dan aku cintai  susah payah berjuang untuk hidup, aku merasa berhutang budi dan berkewajiban untuk membalas kebaikan mereka,” kata Siti yang harus menerima kenyataan untuk dinikahkan saat belia.

Tiga bulan bekerja di pabrik, Siti melihat dan merasakan ketidakadilan dalam dunia perburuhan. Selain masalah upah dan jaminan yang layak, Siti juga melihat kondisi buruh yang makin terpuruk karena tekanan keluarga. Jiwanya berontak. Itulah yang menjadi titik balik untuk terjun dalam perjuangan buruh dan larut di dalamnya hingga sekarang.

“Energi itu sering begitu besar tersedia ketika mendapati kondisi-kondisi buruh,  misalnya anaknya masih kecil sedangkan suami nganggur atau malah menceraikan, mereka tinggal di ruang sepetak bersama orangtuanya. Meski kondisiku juga jauh lebih morat marit ketika itu, tapi setiap kali melihat ada buruh yang menerima ketidakadilan, diri ini otomatis refleks membantu mereka,” kata Siti tak ubahnya seperti “berjihad” untuk membantu rekan-rekan sesama buruh.

Berjuang untuk menegakkan keadilan bagi buruh, tentu harus siap dengan semua risiko, termasuk diberhentikan dari tempat kerja. Dalam kurun 1987 sampai 2006, dalam riwayat pekerjaannya, Siti tercatat pernah bekerja di sembilan perusahaan.

“Dari pabrik-pabrik itu, rata-rata saya keluar karena kegiatan serikat, beberapa kali dipecat, dan beberapa kali melamar kerja ditolak karena tahu saya sering berkegiatan di serikat,” kenangnya.

Namun Siti tak pernah menyerah, alih-alih menyesal telah tumbuh menjadi sosok aktivis buruh. Baginya, masa-masa hidup dalam dunia pergerakan memang selalu terjal bahkan lebih sering menyesakkan, tapi di sana ada nyala kehidupan. “Bisa tetap memegang prinsip, itulah kusebut kekayaan sekaligus kemerdekaan buatku.”

Siti, di tengah-tengah kesibukannya dengan dunia serikat buruh, dia tetap ingat akan cita-citanya untuk mengenyam pendidikan. Sejak hijrah ke Jakarta, cita-cita yang dia genggam erat itu perlahan dan pasti diwujudkan.

Kini, sambil menjaga warung-warung buah idealismenya, mengurus serikat buruh dan koperasi yang dia gawangi, Siti juga menyelesaikan kuliahnya di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Siti juga berkesempatan belajar di Kelas Narasi Pantau sekaligus bekerja di Pantau Foundation. Pada titik itulah dia sadar bahwa Tuhan selalu mempunyai rahasia-rahasia yang indah untuk umatnya.

“Andai aku ketika itu lulusan SMA, pasti aku akan diterima sebagai sales bersama pelamar-pelamar lain. Karena aku (lulusan) SD maka aku ditolak. Dan aku nisa melihat pilihan-pilihan lain, dan bisa membantu orang lain juga.”

Bagi Siti, apapun profesi yang sedang dijalani, itu adalah jalinan temali untuk pijakan hidup yang lebih bermakna di masa depan. Seperti juga pilihannya sekarang, menjadi pemilik dua warung bersama rekan seperjuangan, semua tak terlepas dari napas perjuangan untuk bisa berbuat lebih banyak bagi sesama.

Satu harapan besar Siti, dia ingin buruh bisa mandiri, berani, bersatu, dan punya kejujuran untuk memperjuangkan nasibnya. Persatuan dan tindakan kolektif, katanya, merupakan buah dari kesadaran dan keberanian kolektif.  Ketika buruh bergerak dan bertindak karena “isi” kepala, maka perubahan nasib — keadilan, kemerdekaan, kesejahteraan — akan datang menghampiri.

Dengan serikat ini, Siti ingin tumbuhnya kesadaran buruh untuk berpengetahuan,  mandiri,  dan makin solid sehingga bisa bersama-sama menyelesaikan persoalan. Siti ingin kondisi buruh berubah menjadi lebih sejahtera, lebih sehat, lebih merdeka, dan lebih bertanggungjawab. “Saya ingin hukum lebih adil untuk mereka.”

Riwayat Hidup

Biodata

Nama                           : Siti Nurofiqoh

Tempat tanggal lahir   : Magelang 10 Juli 1973

Riwayat pendidikan

  1. sekolah Dasar
  2. S1 (blm wisuda)

Pengalaman kerja/organisasi

  1. Suryarex sktr tahun 1987, Tempuran, Magelang
  2. PT Pandatex sktr 1989, Tempuran, Magelang
  3. Pabrik kacang Cipta Rasa Anugerah, 1990 – 1992
  4. PT Duta Busana Danastri, 1993-1994
  5. PT Indoraya, 1995
  6. PT Casino, 1996 – 1997
  7. PT Brentanindo, 1997
  8. PT Koinus Jaya Garment, 2000 – 2002
  9. PT Universal Footwear Indonesia,  2005 – 2006
  10. Pantau Foundation, 2006 – 2012
  11. Mendirikan Serikat Buruh Bangkit
  12. Mendirikan Koperasi Masyarakat Bangkit#
Share This