Suhrawi, SE

Kepala Desa Pajanangger, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur

 

Kades Visioner dari Pulau Kangean

Dengan semangat dan idealismenya, Suhrawi berhasil mengubah Desa Pajanangger yang dulu memprihatinkan menjadi desa yang bangkit segala sisi untuk mengejar ketertinggalan. Listrik desa, membangun jalan poros desa yang terhubung sampai ke dusun-dusun, sampai membenahi kawasan Pantai Sapoong yang dulunya rawan menjadi tempat wisata yang indah dan menjanjikan banyak harapan. Tak hanya pembangunan fisik, tapi juga mengubah cara berpikir warga untuk mendorong generasi muda di desanya agar bisa menjawab tantang di depan. Baginya tak ada yang tak mungkin dilakukan selama ada niat baik dan kemauan yang kuat untuk berubah.  

Fajar baru saja menyingsing di bibir pantai di Teluk Sapoong. Hamparan pasir putih menyempurnakan keindahan. Sebuah gerbang wisata Teluk Sapoong terlihat tertata rapi terbuat dari kayu stigi. Teluk ini terletak di Desa Pajanangger, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Teluk Sapoong berada di Pulau Kangean. Sebuah pulau yang menyimpan banyak pesona sekaligus keterbatasan. Butuh waktu sekitar empat jam dari Kota Sumenep, dengan kapal cepat untuk mencapai pantai ini. Jika cuaca tak begitu baik, perjalanan jauh lebih panjang dengan kapal barang selama 10 jam, atau bahkan perjalanan ditunda sampai keesokan harinya sampai cuaca bersahabat untuk melanjutkan berlayar.

Teluk Sapoong, punya kisah sendiri sebelum dipercantik menjadi tempat wisata. Dulu, kawasan perairan yang ditumbuhi hutan bakau ini dikenal sebagai tempat para remaja ngoplos obat batuk dengan minuman keras, perbuatan asusila, dan tempat bersembunyinya para pencuri ternak. Teluk Sapoong yang terletak di pinggir Desa Pajanangger juga menjadi sarang para penyamun.

Suhrawi, Kepala Desa Pajanangger mengatakan, butuh waktu sekitar enam bulan untuk membangun Teluk Sapoong menjadi sebuah destinasi wisata. “Semua berawal dari kegelisahan saya dan warga yang melihat maraknya oplosan minuman memabukkan, mesum dan pintu masuk pencurian hewan. Saya bersama warga membersihkan Sapoong dan jadikan tempat wisata,” katanya.

 

Pantai Teluk Sapoong memang menyimpan pesona yang luar biasa. Di kawasan seluas lebih dari 10 hektar ini terdapat pantai dengan gundukan bukit pasir yang indah, hutan mangrove yang hijau, dan air pantai yang jernih. Kawasan ini sangat potensial untuk dijadikan destinasi wisata nasional, bahkan dunia. 
Karena itulah Kelebun (kepala desa dalam bahasa lokal, Madura) Pajanangger berani mengatakan bahwa Sapoong menjadi harapan baru mereka. “Selama ini, banyak warga mencari nafkah di Malaysia. Saya mau masyarakat Pulau Kangean ini bisa mandiri dengan mengelola aset desa, termasuk teluk ini,” katanya.
Di Desa Pajananger, berbagai masalah timbul karena banyak warga jadi TKI. Banyak warga memilih mengadu nasib di negeri jiran karena alasan keterbatasan ekonomi. Walhasil, anak-anak kehilangan sosok orangtua. Mereka tumbuh dengan jiwa dahaga kasih sayang.
Berbincang dengan redaksi tokohinspiratif.id melalui saluran telepon, Suhrawi menuturkan rata-rata warga desanya bekerja sebagai petani, nelayan, pedagang, sebagian kecil pegawai  negeri, dan sebanyak 70 persen merantau ke negeri seberang sebagai buruh migran. Terbatasnya sumber daya manusia membuat banyak potensi daerah yang harusnya bisa dikembangkan menjadi terbengkalai, seperti pertanian, perkebunan, dan sebagainya.
Inilah yang membuat Suhrawi pada tahun 2016 nekat melawat ke Malaysia, menyambangi warga desanya yang bekerja di sana. “Saya bilang, saya jamin pendapatan bapak akan signifikan di kampung, yang penting berniat bekerja. Agar anak-anak bapak tidak terlantar karena karena kurang kasih sayang dari orangtua.”
Untuk meyakinkan warga, Suhrawi menjanjikan akan memfasilitasi seluruh warganya untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur di desa, termasuk menyiapkan pasar untuk menampung produk hasil pertanian. Terhadap anak-anak rantauan yang sedang menempuh pendidikan, kepala desa berpenduduk 8.793 jiwa ini juga selalu membakar semangat mereka untuk tekun belajar dan membawa ilmunya pulang untuk membangun kampung halaman.
“Di setiap kota yang saya kunjungi dan ada perkumpulan pelajar dari Kangean ataupun Pajanangger, saya selalu sempatkan untuk menemui,” kata penasehat Kesatuan Mahasiswa Kangean Indonesia (KMKI) ini.
Pilihan warga Pajanangger untuk mempercayakan kursi kepala desa kepada Suhrawi tak salah. Dengan kepiawaiannya mengelola sumberdaya alam, pemerintahan, dan ngemong warga, desa berpenduduk 8.793 jiwa ini telah banyak mengalami perubahan. Selama empat tahun memimpin desa, berbagai sarana infrastruktur telah dibangun dan diperbaiki. Mulai dari akses jalan, jembatan, saluran air, hingga pengadaan listrik. Bangunan sekolah dan tempat ibadah diperbaiki. 
Suhrawi menjabat sebagai kepala desa melalui pemilihan langsung pada 22 Desember 2014. Dengan mendapatkan suara mayoritas, di hadapan warga dia berjanji akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menyejahterakan warga dan membuat Pajanangger sebagai desa percontohan.
Tahun pertama menjabat kades, setelah melakukan inventarisasi pekerjaan-pekerjaan prioritas, Suhrawi membangun jalan-jalan sepanjang ruas poros desa dan mengubungkannya dengan jalan-jalan menuju dusun. 
Maklum saja, sebelum jalan semulus sekarang, dulu seringkali penduduk selalu mengatakan ombak daratan lebih bahaya daripada ombak lautan. Jalanan desa yang  bergelombang dan menjadi kubangan ketika musim penghujan membuat warga kesulitan mengakses jalan darat, alih-alih celaka. Sekarang, satire itu tak berlaku lagi. 
“Saya bersihkan ruas jalan desa, mulai dari pembebasan lahan untuk perlebaran jalan desa semua legal. Sekarang lebar jalan poros desa dari 3 meter menjadi 6 – 8 meter meter. Lebar jalan menuju kampung sekarang sudah 3-4 meter. Tidak ada lagi akses jalan kampung lewat pematang sawah. Itu semua sudah rampung,” Suhrawi dengan bersemangat.
Masih di tahun pertama menjabat kepala desa, seluruh penjuru desa telah terang benderang dengan penerangan pembangkit listrik diesel dimana dia bermitra dengan perusahaan listrik swasta. Bahkan kini Suhrawi tengah memperjuangkan agar listrik dari PLN bisa mengalirkan setrum ke desanya.
“Hadirnya lisrik PLN bagi kami sangat membantu produktifitas warga,” cetus Suhrawi ketika wawancara ini berlangsung sedang berada di Kota Sumenep untuk menghadap bupati terkait pembukaan jaringan listrik PLN di Kangean. 
Tahun kedua, masih soal infrastruktur jalan. Akses jalan yang telah dibuka dan diperlebar, kini mulai dibeton, dimakadam, ataupun paving sesuai kebutuhan. Pengecoran jalan poros desa pun sudah dirampungkan. Warga kini tak lagi khawatir terkena genangan air karena sudah dibangun tanggul dan saluran-saluran air untuk antisipasi banjir. Dusun-dusun yang terisolir kini sudah dibukakan akses jalan yang dibuat permanen dan langsung tersambung dengan jalan poros desa. Dari Desa Pajanangger ke ibu kota kecamatan Arjasa, tak perlu lagi lewat jalur laut.
“Dulu dari Pajanangger ke Arjasa, warga memilih jalur laut yang menempuh perjalanan 2-3 jam tergantung kondisi pasang surut air. Biaya pulang – balik habis sekitar Rp 200 ribu untuk satu orang .”
Sekarang ke Arjasa lebih mudah dan ekonomis lewat jalur darat. Hanya menempuh watku 30 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. Dan bersyukurnya warga karena kini sudah bisa menikmati taksi darat roda empat yang beroperasi dari Arjasa ke Pajanangger karena akses jalan yang telah diperbaiki. Hujan deras pun tak jadi penghalang warga untuk tetap melanjutkan perjalanan.
“Saya harus mencari solusi atas semua keterbatasan di desa kami. Sebagai pemimpin di desa Pajanangger, saya harus hadir di tengah-tengah masyarakat agar tahu apa yang mereka butuhkan,” kata Suhrawi.
Diakui Suhrawi, pelebaran hingga membuka membuka akses warga terhadap ketertinggalan yang selama ini dijalankan tidak serta merta bisa dilakukan. Menurutnya, ini adalah proses panjang mulai dari mengubah mindset warga hingga melakukan pendekatan kalangan tokoh agama hingga institusi pendidikan di desanya. Ia ingin melibatkan seluruh warga untuk melakukan pembangunan di desanya.
“Lewat lembaga pendidikan, kami memberikan motivasi terhadap para guru selaku orang  yang berperan untuk membentuk generasi yang akan datang, kami juga memberikan reward terhadap anak anak sekolah yang berprestasi dan kepada guru yang teladan,” terang Suhrawi yang setiap Senin secara bergilir selalu mengisi acara upacara di sekolah-sekolah dalam rangka memberikan pemahaman terhadap generasi milenial di desanya. 
Di hadapan para peserta upacara, Suhrawi yang memiliki suara lantang ini membakar semangat kebangsaan anak-anak desanya untuk belajar lebih giat, mencintai negara, dan membangun desanya. Mengapa ini dilakukan? Karena dulu warga desa Pajanangger yang berasal dari beragam suku, yakni Bugis, Bajo, Kangean, dan Madura masih ada yang menganggap menghormat bendera Merah Putih adalah dosa, dan bahkan tidak menghendaki Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara.
“Itu menjadi pekerjaan rumah bagi saya untuk bekerja lebih keras memahamkan generasi muda kami agar ke depan ada pengakuan bahwa negara ini tidak serta merta ada, tapi ada proses panjang yang ditempuh para founding fathers untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Bahwa selembar kain merah putih ini mempunyai nilai historis, termasuk Pancasila sebagai falsafah negara. Ini yang kami pahamkan,” kaya Suhrawi yang bersyukur sekarang warganya sudah mulai mengerti dan tak ada lagi yang menolak untuk berdiri memberikan hormat kepada sang saka Merah Putih.
Sejak menjabat kepala desa, sangat penting bagi Suhrawi untuk memimpin upacara memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bersama warganya di lapangan desa. Itulah momen yang paling tepat untuk menghadirkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tokoh agama, pedagang, petani, nelayan, sampai murid-murid taman kanak-kanak untuk menyampaikan makna kemerdekaan, pentingnya nasionalisme, dan makna negara hadir di tengah-tengah mereka.
Bagi Suhrawi, amanah yang dititipkan warga kepadanya tak akan disia siakan. Dia berkomitmen untuk menjaga seluruh warga dan memberdayakan segenap potensi yang dimiliki di desanya untuk memakmurkan warga. “Itu memang menjadi komitmen saya. Apa pun yang ada di desa saya menjadi tanggung jawab saya.”
***
Suhrawi adalah putra asli Kangean. Lahir di Arjasa, 8 Februari 1972, Suhrawi adalah anak nomor tiga dari tujuh bersaudara.
Kakek Suhrawi adalah orang yang dihormati di Pulau Kangean sekaligus pelopor pembangunan di Kecamatan Arjasa. Pada jamannya, sang kakek mempunyai Sekolah Rakyat yang telah bersertifikat. 
Suhrawi sendiri menamatkan pendidikan hingga strata satu fakultas ekonomi di Universitas Negeri Sumenep. Tumbuh di lingkungan idealis, membuat jiwa Suhrawi menjadi sosok pejuang di Arjasa. Dia lantang menyerukan penegakan hukum yang berkeadilan dan memprotes ketimpangan pembangunan dan pelayanan publik antara warga kepulauan dan daratan. Bersama teman-teman sepergerakan, Suhrawi menuntut kesetaraan pembangunan bagi warga Pulau Kangean. 
Saat dirinya masih kanak-kanak, orangtua Suhrawi pindah ke Desa Pajanangger untuk berdagang. “Walau punya pendidikan tinggi, bapak saya tidak mau menjadi pegawai PUD. Dia pilih berdagang di Pajanangger,” kenangnya.
Ikatan dengan Pajanangger makin kuat setelah dia meminang gadis pujaannya, kembang desa Pajanangger yang berdarah Bugis. Sang istri ini pula yang ternyata mempunyai peran besar di balik pencalonan Suhrawi sebagai kepala desa.
“Sebetulnya saya tidak ada niat untuk mencalonkan kades, karena waktu itu di Arjasa saya masih dibutuhkan. Namun melihat keadaan Pajanagger yang memprihatinkan dan dorongan istri saya untuk  memperbaiki kondisi desa dengan nyalon kades di Pajananger, akhirnya saya pertimbangkan.”
Suhrawi mencalonkan sebagai kades di Pajanangger, tanpa mengeluarkan uang serupiah pun. Sebaliknya, justru warga yang patungan mengeluarkan biaya untuk memenuhi kebutuhan kampanye dan bahkan menyediakan tempat tinggal bagi keluarganya.  
Dukungan yang luar biasa dari warga menjadi alasan baginya untuk berpeluh dan memeras otak membangun Desa Pajanangger dari desa tertinggal menjadi sebuah desa percontohan dan telah mengalami perubahan yang signifikan. Perubahan bukan hanya pada pada akses jalan, listrik, air bersih, tapi juga perubahan cara berpikir warga untuk mendorong generasi muda di desanya agar bisa menjawab tantang di masa depan dan bisa memanfaatkan semua potensi sumber daya alam untuk kemakmuran warga.
“Jangan sampai kepercayaan masyarakat di luar sana pupus gara-gara saya tidak beres melaksanakan tugas pemerintahan. Saya ingin menunjukkan ke publik bahwa saya tidak hanya bisa sekedar bicara, tapi saya bisa melakukan sesuatu yang dari tidak ada menjadi ada,” kata Suhrawi yang juga terlibat langsung dalam penghijauan sepanjang ruas jalan dari Arjasa menuju Pajanangger.
Terakhir, Suhrawi berharap, apa yang telah dilakukan di Pajanangger dapat dicontoh dan dilanjutkan oleh generasi-generasi muda di desanya. 

Riwayat Hidup

 

Biodata

Nama                           : Suhrawi, SE

Tempat tanggal lahir     : Sumenep, 8 Februari 1972

Keluarga                      : menikah dengan tiga orang anak

Jabatan                        : Kepala Desa Pajanangger, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep

 

Pendidikan

  1. SDN Pajanangger 1
  2. MTS Al-Hidayah Arjasa, Kangean.
  3. Madrasah Aliyah Alhidayah
  4. Fakutas Ekonomi Universitas Negeri Sumenep

 

Riwayat jabatan

  1. Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan.
  2. Ketua Lembaga Desa Hutan se Kepulauan Kangean.

3.Ketua AKD se Kecamatan Arjasa

 

Pengalaman organisasi

  1. Penasehat Kesatuan Mahasiswa Kangean Indonesia (KMKI)
  2. Anggota JCW
  3. Kabiro Koran Tropong#
Share This